YOSHIKUNI EMI
alunan jazz di sebuah cafe clasic menemani pagi ku hari ini. di tambah moccacino yang baru saja datang bersama sepotong roti lapis berlumer keju yang masih hangat membuat pagi ku terlihat sempurna.aku menyeduh sedikit moccacino yang berada di cangkir putih bertuliskan 'Never Understanding Love' berharap hari ini akan berlalu dengan amat sangat lambat. sambil menatap buku tebal berhalaman 2000 lembar, aku mulai mengambil keputusan antara mengambil proyek dosen ku atau proyek The BysGis sendiri. sebenarnya malas untuk bertemu dengan kakek tua itu di england apalagi ia pernah menahan mobil kodok kesayangan ku selama 4 bulan pula sewaktu ia berlibur di tokyo selama 5 bulan. menjengkelkan adalah kata yang pas untuk mendiskripsikan sifat kakek tua itu. Tapi, aku sedikit tak enak dengan Josy. josy selalu menjadi perempuan perkasa yang di kelilingi kesebelasan sepupu yang tak berguna di mata para wanita The BysGis. terkadang aku ingin memaninya tapi, sekali lagi aku malas bertemu kakek itu karena masalah dendam lama yang masih membekas sedikit di kotak kenangan otak ku. meraih ipone5 ku dan mengetuk nama Nolla, wanita tertua dalam member Th BysGis.
"hey wwhats's up!" ujar nolla sedikit berteriak.
"where are you sist?"
"AFRIKAA!! aarrgghh... ada cicak di baju ku?! wushwush!" nolla berteriak sangat keras. suaranya terdengar sampai dua bangku dari tempat ku menikmati roti berlumer keju. padahal,ini belum aku loudspeaker akalau aku loudspeaker bisa-bisa aku tidak di izinkan jadi pelanggan cafe ini lagi.
"ikut The BysGis sist?kasian josy jadi wanita terakhir lagi."
"duh Em! aku gak bisa datang lagi. kau tau kan,kau dan aku masih dendam dengan kakek tua itu walau masalahnya benar-benar masalah kanak-kanak dan lagi, aku terlalu sibuk! pasien ku yang tak sabaran dan suka mengutuk selalu meminta ku memeriksa mereka setiap jam."
"aku tau kau terlalu populer di kalangan manusia bahkan anjing tergila-gila pada mu Nolla."
"sudahlah! aku tak bisa berbicara lama lagi. bye.."
suara Nolla hilang tak terdengar oleh ku lagi. dan kali ini fix sudah! untuk pertemuan The BysGis josy harus seorang diri menghadapi kesebelasan laki-laki payah.
aku menyeruput moccacino ku kembali lalu membaca buku tebal yang menyebalkan tepat di depan ku.aku mengetuk keypad ponsel ku,berfikir mengarang untaian kata maaf dan beribu alasan kepada josy karena tak bisa menemaninya.
send...
tak lama pesan baru masuk dan rupanya berasal dari dosen muda yang tersohor di universitas. dosen ini sebenarnya pernah memberikan beberapa kenangan manis yang tak akan ku lupakan tapi tak pernah ku ceritakan kepada orang lain bahkan kepada nolla atau josy yang selalu dekat dengan ku. kenangan yang berlatarkan di suatu tempat yang tidak romantis dan tak seberapa terkenal dan beberapa tahun lalu terkena tsunami. Di fukushima,kita menjadi relawan menolong segala usia segala jenis makhluk hidup yang sekiranya masih bisa di tolong. Dan saat itu, aku duduk di bangku terakhir SMA dan dia pria berumur 23 tahun kuliah di universitas terkenal dan sekarang ia menjadi dosen di universitas yang sekarang aku tempati. Saat bertemu denganya untuk pertama kalinya di universitas benar-benar gak kaget.hanya saja firasat ku bercabang tentang dirinya.
Lonceng pintu masuk cafe berbunyi. Another customer come. aku menyeruput lagi dan mulai memainkan game fashion icon di ponsel ku. Saking asyiknya aku tak sadar kalau sudah ada seseorang yang duduk di depan ku.'ehheemm!!' Ia berdeham, aku sqdar dengan suara dehaman itu. Aku menatap dirinya dan rupanya."Satoshi-kun" gumam ku pelan menyebut nama seseorang yang baru saja ku pikirkan. "Aahh!! maksud ku, sensei! Gomennasai!" Aku lepas kendali. Dia bukan pria yang dulu memberikan kenangan manis saat menjadi relawan petama kali di fukushima,tapi dia sekarang pria mapan bertambah tampan beribawa dan dewasa duduk di depan ku dengan status sosialnya SENSEI bukan SATOSHI.
Dia berdeham lagi dan menyeruput moccacino ku. MENYERUPUT MOCCACINO KU!! Tepat di tempat bibir ku menempel di bibir cangkir,ia mendaratkan bibirnya juga. 'What? UNDIRECT KISS!!' Teriak ku dalam hati kegirangan dan kaget. Bukannya munarik. Di lainlain sisi benar aku senang banget rasanya mau lonjak-lonjak api gak etis kalau lonjak-lonjal di tempat ini apalagi di depannya.nanti bisa-bisa aku di kira orang gila. Tapi di lain sisi aku menjerit kaget. Main nyeruput minuman orang aja,menapa gak pesan saja secangkir lagi. Pasti lebih enak masih anget.
"Moccacino ini enak sekali! Tak salah kalau kau selalu ke ini tiap pagi."
Aku tercengkang mendengar ucapannya. Kenapa dia tahu kalau aku sering kesini tiap pagi?jangan-jangan dia sering stalking aku.
"Aku sewa apartement di gang depan itu!jadi tahu kalau kamu ke sini tiap pagi. Tenan aku bukan tipe pria yang suka stalking wanita yang ia fans." ucapnya sambil menunjukan gang tepat di depan cafe. Wanita yang ia fans? Aku? Berarti dia masih...
"Oh ya besok kita akan berangkat pagi sekali! Tadi aku sudah bilang ke lainnya lewat sms."
Lewat sms? Ke semua orang? Kenapa aku gak dapat smsnya?
"Aku sengaja tak sms diri mu! Karena aku tahu, kau pasti sedang nongkrong di sini. Sengaja aku mampir sekalian cicipi moccacinonya." Ujarnya lagi dan kali ini akumenundukkan kepala membukam mulut dan pipi ku merona merah. Sedikit nge-fly dengar ucapannya yang begitu membuat ku senang.
"Tapi? Bukanya dulu kamu tak suka kopi? Tapi sekarang malah suka moccacino favorite ku juga." celoteh satoshi lagi. Dari awal celotehannya aku tak menjawab hanya diam mengatupkan bibir membekukan lidah dan pura-pura bisu. Bukannya aku tak suka,malah aku amat sangat suka dengan kehadiranya seperti ini. Tapi ini semua terlalu mendadak dan berlebihan.
"Em! Kau masih marah? Kau bilang kau sudah tak marah dengan ku." suara menjadi lembut
Marah? Aku tak marah hanya saja tak ingin bicara.
"bodohnya aku! Jelas-Jelas kau masih kecewa dengan ku. meskipun kau memaafkan aku tapi kau tetap kecewa dengan ku. "
Aku tak menjawab. Hasrat ingin berbicara membuka bibir ini tapi,tak tahu apa yang harus ku katakan. Aku bukan pujangga yang pintar mengarang beribu alasan yang akan membuat semua hati orang luluh akan alasan yang tak benar faktanya. lalu terdengar oleh ku menghela nafas kebingungan dengan sikap ku.
"Aku tak berhak melarang mu untuk mencaci maki diri ku dalam hati karena memang aku pria yang brengsek saat kejadian itu. Tapi kau tau? That was my sweetest memory an i'll never forget it. Dan aku berharap, aku bisa memperbaiki kesalahan ku dan membuatnya lebih lebih blkenangan yang terbaik lagi." kini suaranya lebih lembut dan terdengar rapuh di telinga ku. Aku menatap wajahnya. Matanya! Matanya seperti berkata kalau dia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat kepada ku. Dalam tatapan ku, Ia seperti ingin menangis. Iq mengacak-acak rambutnya yang sudah agak godrong itu. Ia berdiri..
" i know Em! I'm the jerk one! And you deserve to hate me." Dan akhirnya ia pergi keluar begitu saja. Aku menatap punggungnya yang pergi dan yang ku lakukan melanjutkan permainan fashion icon di ponsel.
"I think i'm the jerk one!" Gumam ku sambil mengerutkan bibir dann kemabali bermain fashion icon. aku berhenti meletakkan tablet ku di atas kitab yang tebal. mata ku terpaku menatap tulisan di cangkir 'never understanding love' melamun entah kemana hayalan ku membawa ku ke suatu alam bawah sadar yang dapat membius ku beberapa menit dari gerak-gerik kehidupan di sekitar. mungkin memang satoshi yang salah tetapi,kemungkinan besar aku penyebab kesalahan satoshi jadi, dengan akata lain aku adalah kambing hitam dari semua konflik 3 tahun lalu. dan sebenarnya aku sudah sadar dengan kesalahan ku ini. aku hanya... hanya.. hanya.. tak tahu bagaimana merangkai kata-kata yang pas untuk berucap di depannya, menatap sepasang bola mata yang akan membuat ku membungkam begitu saja, lalu menatap lekukan bibir yang membuat tubuh ku mati gaya. aku tak bisa! dan mungkin saja aku kalah!! kalah melawan ego ku yang terlalu besar,
ego yang selalu mengontrol sampai mendoktrin otak ku jika perempuan tak berhak bekata maaf di depan seorang pria karena kodrat wanita bukan untuk MENGEJAR tapi untuk DIKEJAR! doktrin yang tumbuh dari didikan kakek tua kami. dan salah ku juga mudah menelan didikan pria tua bangka yang tinggal menunggu waktu ajal tiba.
10.00 a.m.
aku tak sadar sudah lebih 2 jam berdiam diri menyalahkan diri sendiri di sini selama ini. aku tak memiliki kegiatan yang penting hari ini. aku putuskan sekedar mampir di ruang club 'PECINTA SEGALA MAKHLUK HIDUP' yang di dirikan oleh satoshi-kun. club ini sudah berdiri lebih dari 18 bulan tetapi, sampai detik ini belum dapat nama yang pas sesuai hati kami semua. kira-kira sudah 16 kali kita mengganti nama club tetapi tetap saja belum ada yang cocok. ruang club terlihat lenggang seperti biasa. hanya ada 5 orang saja. ketua,wakil,seketaris,bendahara,dan tak lupa satoshi. aku masuk dengan mulut masih membungkam rapat menuju kursi di pojok dekat dengan kandang anjing lambrador yang beberapa hari lalu kami temukan dengan keadaan kritis di sebuah gang sempit. anjing itu menggonggong menyapa ku. sekecil senyiman tak terlukis di bibir ku, hanya lekukan bibir kaku yang datar terpampang jelas di wajah ku. aku meletakkan tangan di kandang,dan ia menempelkan tubuhnya di tann ku seolah-olah ia sedang aku elus padahal bukan. aku hanya ingin membalas sapaan lambrador tersebut. 'klutuk' suara pesan masuk. aku tak membukanya hanya asyik menatap sikap lambrador itu yang masih bergelut dengan tangan ku yang menempel di kandangnya. 'klutuk' pesan kedua masuk tapi tetap aku hiraukan. 'klutuk' pesan ketiga,'kluk' pesan keempat,'klutuk' pesan kelima. dan akhirnya sampai lagu don't i - teen top berbunyi, aku mengambil ponsel dari saku jins emba ku.
"eehhm?" gumam ku. tapi tak ada balasan. aku hampir, hampir ingin pencet end call rupanya waja yoonpa terpampang di layar ponsel. kalau josy selalu dekat dengan boom, tapi aku selalu dekat yoonpa. nama aslinya adalah Park Jong yoon. di ambil nama akhirnya yoon di tambah akhiran dari kata Oppa akhirnya namanya berubah menjadi yoonpa. ia terliha tersenyum pada ku aku tersenyum padanya.
"oppa!"teriak ku sedikit manja.
"emi-chan?" jawabnya dengan gaya sok imut. tiba-tiba seluruh orang menoleh ke arah ku. aku mengeluarkan headset dan berbalik ke arah kanan. kami berbincang-bincang panjang lebar seolah-olah kita pasangan burung yang saling jatuh cinta,tak bisa berhenti berkicau. Tapi ,kalau kami berdua tak bisa berhenti mengeluarkan senyuman yang termanis sebisa kita berdua. menatap mata yoonpa lebih muda daripada menatap mata satoshi. walau aku terlihat asyik bervideo call-ria, aku sempatkan untuk melirik ke arah kawan-kawan satu club ku berkumpul. dan sesuai dugaan ku! aku mendapati tak sengaja satoshi melirik ku dengan wajah merah padam seperti ingin meledak. walaupun ia meledak,ia tak berhak untuk meledak kepada ku. mengumpat ku atau mengutuk yoonpa karena anatar aku dan dia sudah berakhir. "ha? Married? who with who?" teriak ku spontan dan sekali lagi, teriakan ku menarik perhatian anggota yang lainnya. aku kembali berputar dan memberikan mereka pandangan punggung ku yang tak seperti malaikat tanpa sayap ini. yoonpa menceritakan segalanya tentang laurance dan clara. aku sedikit khawatir tentang josy. josy wanita yang rapuh walau kelakuannya tak pernah menampakkan kerapuhannya yang amat dalam. kelakuan josy memang bisa memanipulasi apa yang ia sedang pikirkan. orangkan terkecoh dari penampilan josy,karena begitulah josy. beberapa konflik kehidupan yang akhirnya membentuk dirinya seperti berpakaian besi,bertopi baja,dan bertombak panjang padahal dia tak seperti itu. hatinya sama seperti wanita lainnya malah sedikit lebih lembut. selembut air mengalir yang tak dapat di raih oleh tangan kosong.
"aku capek nee-san! sudah capek di buat melayang olehnya. semakin lama ia membuat diri ku melayang lebih tinggi dari pada biasanya,membuat ku hampir yakin dia seorang yang akan menjadi tempat naungan ku berteduh dari segala penat karena konflik yang tak pernah selesai di antara aku,kakek buyut,dan orang tua biologis ku. ya ampun! aku seperti wanita yang bodoh! sudah terlena oleh semua bualan dia dan perhatian dia selama ini! 8 tahun dia berbual dan mengobral perhatian kepada ku. rupanya itu hanya akal busuk saja. walau sebenarnya dia benar-benar tulus perhatian kepada ku. benar sih tulus! tapi dengan sebuah alasan simple 'kasian' ia mengobral perhatian yang memang sejak awal bukan untuk melayangkan diri ku tapi hanya sebagai melampaiaskan rasa simpati belaka. malang nasib ku ini! seharusnya sejak awal aku tahu! Steve satu-satunya orang yang mengerti diri ku dan perhatian kepada ku bukan karena alasan yang sesimpel itu yang alhirnya membuat ku melayang lebih tinggi dan jatuh lebih sakit dari biasanya."
balas josy setelah aku mengiriminya sms menanyakan apa yang sedang terjadi di sana. steve! benar hanya steve yang tahu apa yang selalu menjadi isi hati josy. nee-chan, panggilan akrab josy kepada ku, seolah-olah aku ini kakaknya sendiri. tapi, itu hampir benar. dia adik sepupu ku bukan? jadi,josy bisa dikatakan juga adik ku.kakak? rasanya aku rindu dengan kakak ku sendiri. lelaki pertama sebelum yoonpa yang selalu membuat diri ini nyaman untuk mengutarakan apa saja yang aku ingin ku ucapkan. dari ucapan non-sense sampai pembicaraan yang serius ia tetap mau mendengarkan ku. nama kakak ku sudah terpampang di layar,tinggal aku touch yang berwarna hijau aku bisa bertukar cerita denganya kembali. haduh! rasa rindu mulai menyelubungi diri ku. satoshi mendekati ku, memberikan sebungkus roti coklat. aku mengadahkan wajah menatap matanya lekat-lekat walau sebenarnya aku tak kuat lagi menatap matanya itu. terlihat satoshi sudah mulai membuka bibirnya seakan-akan ia ingin mengatakan sesuatu pada ku. tiba-tiba saja ia mengatupkan bibir dan berpaling meninggalkan tempat ku. aku menatap punggungnya lekat-lekat. punggung yang sedang berjalan lurus itu adalah penghancur hati ku yang tak bisa ku lupakan kenangan yang dulu pernah kami buat bersama saat pertama kali bertemu dan esok pagi,aku dan dirinya akan berada di tempat penuh sejarah bagi hati kita berdua yang pernah berlabuh satu sama lain. lagu don't i teentop terdengar lagi, aku menatap layar ponsel dan rupanya dari Kurosaki,kakak ku. dengan cepat secepat rasa rindu menghantui diri ku,aku menerima telepon itu. aku membungkam bibir dengan tangan kanan. aku tak kuasa lagi! rindu yang menghantui sudah terlalu tebal seperti awan hitam yang mengumpal pembawa air hujan. dan akhirnya awan hitam itu meneteskan air hujan setetes demi setetes air mata ku jatuh. butiran air begitu sa keluar dari mata ku tanpa ku rencanakan. awalnya hanya setetes tapi lama kelamaan tetesan itu semakin deras. aku terisak-isak tak bisa bekata lagi. aku memilih menutup ponsel dengan tiba'tiba disaat tengah-tengah cerita kakak ku. sekali lagi! aku menyita pandangan semua orang yang berada di depan. mereka menatap ku dengan tatapan keheranan dan keanehan terlintas juga tatapan menjijikkan sekilas. aku berdiri,menuju pintu membungkuk untuk menyampaikan salam dan saat aku sah menup pintu, aku berlari tanpa arah yang pasti. aku tak tahu harus kemana dan siapa aku berlari menuangkan rasa rindu ini. shit aku terlihat seperti wanita yang ceroboh!
Mega stereo dalam volume yang full memutarkan lagu Blue dari boyband bigbang. tidak, tidak semua boyband itu bencong. tetapi ada yang manly seperti bigbang. mereka tidak terlihat amat sangat bencong dengan tubuh yang lencir gemulai tidak! mereka tidak seperti begitu. mereka pria yang berbadan bidang,bersuara merdu,bergaul dengan asyik, dan bad boys but nice. yes they are! kecuali GD dia tak berbadan bidang,tidak berhati besar,tidak bergaul dengan asyik,dan pastinya bad boy yang almost menuju ke worse boy. tersinggung? ya maaf mau gimana lagi! itu GD yang aku kenal sejak aku TK kemungkinan sejak aku belum lahir dan merenggut nyawa ibu ku sendiri kami sudah saling kenal. selalu jahil,menjambak rambut ku,mengejek ku,berberteriak pada ku,dan tubuhnya? ya ampun sangat amat malnutrisi. tapi mau tak mau aku harus mengakuinya,dia atau GD adalah salah satu The BysGis tertua nomer 2 setelah om gan. tak percaya kan? apalagi aku! aku masih ingat apa yang dia teriakkan sewaktu ia ditrima menjadi murid trainer SM entertaiment dan aku juga masih ingat apa yang ia katakan pada ku via telepon rumah saat ia bergabung ke YG entertaiment, gara-gara itu ia di marahi ayahnya tagihan telepon rumah jadi melonjak mahal. aahh... aku jadi rindu dengan semua sepupu ku. 'tingtong!' suara bel rumah ku terdengar. aku membuka pintu dan sudah ada satoshi berdiri didepan pagar rumah. 'hey!emi!kau harus menghampirinya!' bisik otak ku pada diri sendiri. kaki ku bergerak,melangkah dengan sedikit rasa ragu-ragu. sempat aku menghela nafas dan menelan air ludah. perasaan ini bukan seperti 'i see a prince charming' tapi seperti 'i see the devil' sehingga aku melangkahkan kaki ini dengan sedikit rasa takut. takut the devil akan menerkam ku atau mengubah ku menjadi zombie.
"aah aku hanya mau memberikan ini." satoshi menyodorkan sebuah kertas putih seperti undangan ke pesta. aku tak tahu undangan apa itu yang penting antara pesta pernikahan dan hari jadi club kami. kami berdua diam selama beberapa menit. terlihat oleh ku sosok yang menoleh ke arah kanan sambil menunduk dan tatapan tajam sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. kemungkinan topik yang harus ia ucapkan sehingga pembicaraan ini tak menjadi garing dan kita tak menjadi patung yang sejak tadi di tonton oleh para pejalan kaki. aku menatap lurus ke wajahnya tepat! tanpa perasaan ragu atau malu. "ciee ehem! ada pria di depan rumah Emi-chan cie...." beberapa teman lama ku lewat dan menyahuti kita. barulah itu pipi ku berubah menjadi merah. aku menunduk dan menatap ke arah lain dan tersipu malu. TERSIPU MALU!! aku mencuri pandangan ke arah satoshi dan rupanya ia juga sedang merona. expresi yang belum pernah ia tunjukkan kepada ku sebelumnya. "sensei! sensei,mau masuk?" akhirnya aku bersuara! aku membukakan pagar kecil setinggi lutut ku. "aah tidak! tak usah! aku hanya ingin mengantarkan saja,tak ada niatan untuk mampir." ucapnya yang sedikit membuat ku jatuh. bukan jatuh ke tanah tapi sedikit remuk lah perasaan ku. "Emi?!" suara pria lain terdengar di balik punggung satoshi. aku menjinjitkan sedikit kaki ku dan terlihat, kakak ku di belakang satoshi sekarang! dengan cepat aku membuka pagar,menyenggol pundak satoshi kemungkinan dengan keras,dan memeluk kakak ku. "ni-chan! sejak kapan datang? kok jalan kaki? mobilnya mana? sudah makan? kebetulan aku sudah masak,masuk ke dalam?" ujar ku dengan kegirangan. akhirnya salah satu orang ku rindukan hari ini berada di samping ku dan aku tak menyangkan itu adalah kakak ku. "emi,ada tamu kan?" jawaban singkat kakak ku. aku menoleh ke arah ke satoshi dan mulai membuka mulut untuk mengenalkannya. " halo saya dosen di universitas emi,saya pembimbing club yang ia ikuti. saya cuma datang memberikan lembaran kertas itu. dan sekarang saya mau pamit!" ucapnya lalu ia membungkuk dan pergi berjalan menjahui aku dan kakak ku.
aku mengutarakan semua kejadian itu. kejadian dimana menjadi kenangan manis dan pahit yang sebelumnya tak pernah aku rasakan. aku sudah terbiasa bercerita tentang masa lalu ku bersama satoshi. sudah tak ada air mata yang turun lagi saat cerita itu di putar kembali. Serasa aku bisa lepas dari segala ikatan yang selama ini mengahantui ku selama ini, hantu masa lalu bertampang seram tapi selalu membawa satu ember penuh dengan permen manis membuat ku tertarik untuk merasakan manisnya, selalu ingin membuat ku merasakan rasa manisnya...
"Biarkan aku mengantar mu besok!" Ujar kakak ku,kurosaki. Aku terdiam tak memberikan jawaban. "Akan ku antar sampai tujuan!"ucapnya lagi tapi aku tak membuka mulut untuk menjawab ucapannya. "Susah?berikan ponsel mu!aku akan menelpon guru mu!" Jengkel kurosaki dan ia mengambil ponsel ku yang tergeletak seperti tak bertuan di meja kecil dekat TV. Akhirnya kurosaki bercakap ria dengan satoshi. Ya tuhan! Semoga saja sewaktu expedisi pertolongan hewan esok kau kirim malaikat penolong untuk ku.
Pagi telah datang. Ketinggian matahari sudah menunjukan pukul 7. Aku berdiri di depan pagar rumah seorang diri sambil meniupkan udara ke tangan ku. Seperti biasa pagi ini seperti hari yang lalu! Suhu masih -5°C brrr.. walau tak seberapa dingin,tetapi ini termasuk dingin untuk ku. 450 detik kemudian, kurosaki datang dengan mobilnya yang baru saja selesai di bengkel yang terletak 2 gang dari sini. Perjalanan ke fukushima di tempuh 5 jam perjalanan kendaraan roda 4.anggota club lainnya berkendara dengan mini bus yang di sewa dengan uang kas kita yang lumayan banyak. Tak ada anggota yang bisa ku hubungi kecuali Nirina. Sahabat lama ku yang sudah membanting perasaan,jatuh,bangun bersama ku sejak SMP. Sebenarnya dia bukan sahabat ku tapi hanya teman dekat yang sudah klop di hati ku. Persahabatan itu tak perlu dengan ucapan SAHABAT tapi hanya perlu ikatan batin yang terjalin kokoh sejak lama. Nirina sudah tahu bagaimana bunga sakura bersemi di hati ku dan satoshi dulu karena nirina ikut dengan ku menjadi volunter amatir untuk pertama kalinya. "Em?" Panggil Kakak ku. Aku menoleh ke arahnya.
"bagaimana perasaan mu pada pria itu?"
"Entahlah! Aku tak tahu! Menaruh hati kepada seseorang yang tua itu sangat amat membingungkan. Sehari itu aku bisa di buatnya terbang melayang-layang dengan sayap yang terbuat dari pelopak bunga ume. Sehari itu juga aku bisa dibuatnya jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam bersama dengan keledai yang asik menatap ku."
"Keledai? "
"yap! Keledai! Keledai hewan yang selalu jatuh pada lubang yang sama berkali-kali."
"Berarti kamu mendiskripsikan kamu bodoh? What?"
"Iyaa benar aku bodoh. Karena menaruh hati kepada seseorang itu tak pernah bisa berjalan dengan pikiran selalu mata kebenaran di butakan oleh perasaan yang tak menentu dan hanya membuat diri ku terbelenggu di hubungan yang akan di benci semua wanita."
"Dan tak semua orang dewasa itu berfikir dewasa. Kemungkinan orang dewasa berfikir dengan cara yang sama seperti orang yang jauh lebih muda. Haah! Kenapa menyukai seseorang itu selalu merumitkan?!" Ujar ku dan mulai frustasi. Kakak ku mengelus kepala ku dan aku jatuh ke dalam lautan perasaan yang menentu.
"Serasa aku ini spora bunga dandelion yang sudah mekar dan terbang mengikuti aluran angin yang meniup ku." Ucap ku mengeluh. Mengeluh adalah hal yang aku benci karena di saat aku mengeluh berarti selalu saja sesuatu yang tak bisa ku raih.memang selalu ada sesuatu bukan satu hal tapi kemungkinan banyak hal yang tak bisa di raih oleh manusia, tapi setidaknya hal yang tak bisa di miliki itu pernah ku genggam erat di tangan ku. Headset sudah menyumpal telinga ku dan membawa ku ke dalam mimpi yang indah.
Seberkas cahaya terlihat di mata ku. Punggung satoshi dan kurosaki terlihat jelas di depan ku. Mereka sepertinya mengobrol sesuatu,sesuatu yang tak bisa ku dengar dan tak ku ketahui. Aku membuka pintu mobil dan mereka berdua bejabat tangan sepertinya mereka hanya mengobrol sesuatu yang tidak aneh-aneh atau menyangkut diri ku. Aku menatap wajah kurosaki dengan heran dan ia mengangkat kedua bahunya. "Boys talk" ujarnya dan pergi membawakan ransel ku. Aku melewati pagar lebar,luas,megah dan kokoh. Pagar yang dulu masih sering dilewati oleh para pelajar SD sekarang menjadi basecamp kami untuk 4 hari sebelum kami harus pindah ke selatan dan bertemu dengan relawan yang lainnya berasal dari universitas Y. Ya tuhan aku harus bertahan 4 hari sebelum akhirnya bertemu orang baru. ransel dan koper ku sudah ku letakkan di ruangan kelas 4-4, aku mlangkah melihat-melihat ruangan demi ruangan. Dan akhirny aku melangkah ke sebuag ruangan luas. Hanya ada sebuah grand piano tertutup tak bertuan. Tak ada yang memainkanyya, piano itu berdebu terlihat seperti diri ku. Kesepian dan hanyut akan penungguan yang tak berujung. Aku melangkah mendekat,membuka piano dan aku mulai menekan tuts do, terdengar bunyi yang merdu klasik seperti baru saja di beli. Sore itu bercahaya langit oranye,aku memainkan sebuah lagu klasik yang jelas tak ada yang tahu lagu apa itu. Hanya aku dan piano tahu apa yang sedang ku mainkan. Setap tuts piano mengandung apa yang selama ini ku pendam. Sore ini piano tua dan aku saling bercerita apa yang sudah membuat kita menangis bersama.
3 hari telah lewat. Benar seperti dugaan ku! Aku menghabiskan hari-hari hanya bersama hewan dan nirina. mengobrol ala kadarnya dan bercanda bersama anggota lainnya. Berpapasan tak menatap tak menyapa saling membisu saling menatap mata memberikan rasa rindu yang tertahankan oleh realita. setiap malam,aku memohon berkali-kali pada tuhan agar aku terlepas dari segala ikatan yang hanya membuat ku seperti boneka porselin nan cantik tapi tak pernah di mainkan hanya sebagai pajangan di lemari kaca. Kami berangkat meninggalkan basecamp ini meninggalkan wilayah kecil yang tak pernah ku lupakan. Di tempat ini, aku mencurahkan hati ku untuk pertama kalinya. 3 jam perjalanan akhirnya sampai pada daerah yang sedikit tak asing oleh ku. Anjing labrador menyalak ke arah ku. Aku mendekatinya perlahan-lahan, tangan ku mencoba menyentuhnya. Langkah ku sudah pasti lambat,hati ku menahan nafas, jantung ku dagdigdug bagaimna jika aku di gigit oleh anjing ini yang tiba-tiba ia mengidap rabies atau terkontaminasi dalam tahapan yang sudah berat? Rasanya itu seperti menatap jubah malaikat maut yang lewat tapi tanpa senjatanya. Satoshi mendekat dan sekarang sejajar dengan ku. Tanganya juga ingin meraih anjing itu,tapi tangan satoshi teelebih dulu yang menyentuh anjing itu. "Satosui-kun?" Gumam ku pelan. Satoshi tersenyum lebar,anjing itu mulai bermanjaan di tangannya. Membelai dengan penuh kasih sayang yang tak terungkap. "Apa kau tahu? Anjing ini dulu yang pernah kita selamatkan. Dulu ia kecil dan tak pernah sopan dan sekarang ia malah lebih parah sifatnya." Ujar satoshi sambil memanjakan anjing itu dengan tangannya. Anjing? Ahh... aku teringat! Gara-gara anjing ini kita bertemu dan menjalin kasih walau hanya sebentar. "Dan gara-gara anjing ini,aku mengenal mu. Bisa berbicaradengan mu setelah dari awal bertemu aku selalu ingin berbicara tapi tak ada kesempatan saat itu." Tiba-tiba satoshi berucap kembali. Aku sedikit shock tak berbicara. Bibir ku mengatup rapat. Aku berdir seperti patung,gugup,bingung,mati rasa saat itu juga satoshi berdiri dan menepuk pundak ku dengan tangan yang satunya,yang masih bersih lalu meninggalkan ku sendiri bersama anjing labrador yang masih menjulurkan lidahnya tapi tatapannya masih marah. Aku meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam sebuah rumah kuno kemungkinan jaman edo tak begitu besar tapi cukup menapung kami semua. Rumah ini tua sampai-sampai kayu lantainya akan berbunyi 'jiit' jika kamu berjalanan dengan pelan atau santai. Baunya seperti bau kayu pinus,harum tapi tak menyengat. Seperti biasa, aku mulai menelusuri ruanan di setiap rumah. Rumah ini berbeda dengan sekolah SD yang kemaren. Selalu ada barang yang unik dan membuat ku tertarik tapi di rumah ini aku hanya dapat menemukan alat sekadarnya aja. Kecuali biola tua tahun 1956, 1956? Tua seperti rumah ini. Ya ampun apa tidak ada barang modern sedikitpun di rumah ini? Serasa aku hidup 20 tahun lebih tua! tapi biola ini barang lumayan juga. Bisa untuk menghibur diri sendiri. Aku menjelajah lagi,membuka semua laci di setiap lemari dan aku menemukan foto keluarga. Foto tua dan kelihatannya yang tinggal disini nenek berumur 72 tahun seorang diri yang sedang menunggu suaminya pulang berlayar dan tak kembali pulang selama 40 tahun. Aku tahu karena ada surat cinta yang tertulis singkat terselip di tengah-tengah album foto. nenek itu menunggu kakek itu pulang dan selama itu,ia membesarkan ke-3 putranya yang bisa aku bilan tak terlalu jelek juga. ponsel ku bergetar 2 kali. 2 sms telah masuk . Aku membuka sms yang pertama
"Nee-san, aku bertemu degan ibu ku. Rosaline H. Crocs bertambah cantik! Sangat menawan,anggun,dan seperti biasa angkuh,garang tapi selalu seperti pantas untuknya. Alasan kakek memberkati laurnce karena ia tak ingin aku seperti rose walaupun wajah ku seperti fank,aku masih anak kandung rose yang tentunya memiliki sifat yang mirip dengannya walau tak semuanya. Aku tak tahu jika pernikahan yang bahagia bisa membuat roasaline terlihat lebih cantik dan bahagia walau wajahnya masih terlihat mendendam perasaan dendam yang lama kepada kakek. Dan frank,terlihat sangat amat tampan! Setelan tuxedonya membuat ia seperti pria gagah. Dan aku juga tak mengerti bagaimana perceraian bisa membuat frank menjadi tampan dan bahagia seperti ini. Dan kau tahu? aku mulai berkomitment akan memanggil frank dengan sebutan 'dad'. Enatalah aku rasa ia berhak ku panggil seperti itu karena itu adalah kebenarannya ia adalah ma dad." Dari Josy memberi tahu kebahagiannya yang mulai menjadi lebih bersinar. ya ampun aku mulai penasaran bagaimana kalau aku bisa sebahagia josy lagi? beberapa foto di kirimkan yoonpa melalui line. Terlihat juga saat josy berdempet oleh kedua pria yang berebut bouquet, aku memiliki firasat kalu akan ada kisah triangle love versi josy. Aku keluar mencari beberapa snack tertinggal di bagasi mobil. Aku mulai membuka bagasi dan mulai mengangkut bahan snack. "Kau seharusnya meminta bantuan kepada orang lain." Ujar seseorang yang tiba-tiba berada di sebelah kanan ku. Kewakan badan yang memang kelakian banget,suara yang berat,kacamata berframe bubble gum membuat ku menoleh ke wajahnya. "Kau punya nirina kan? Kenapa kau selalu mencoba sok tegar kau memang tak pernah berubah!" Ucapnya sekali lagi. Ucapannya itu membuat ku terpana padanya serasa ia tak asing bagi ku. Untuk pertama kalinya aku melakukan hal bodoh untuk menyakinkan diri ku kebenaran identitas yang muncul dan tak asing oleh ku. Aku mencium ke arah lejernya dan tercium aroma lavender, lavender seperti aroma yg selalu di miliki oleh....
"Kristov!!!" Jerit ku dan langsung memeluknya dengan erat. Aku mencengkram pelukan ku sekuat tenaga hampir saja aku membuat dia terguling dan untung saja ia dapat menahanya. Aku mulai mencium dirinya di segala penjuru wajahnya. Pipi,hidung,dan kening sudah aku cium. "Ciuman mu terlalu parah,Em!" Ujarnya sedikit protes.
"Seharusnya kau mencium ku seperti..." sebelum selesai ucapannya, ia menarik pingang ku,aku memejamkan mata dan akhirnya kami berciuman yang seperti seharusnya kita lakukan, bibir bertemu bibir.
"Eheem!!" Suara dehaman seseorang menghentikan ciuman kami berdua. THATS MY FIRST KISS!! Aku menampar pipi kristov dengan keras dan suaranya terdengar sangat nyaring.
Ponsel ku bergetar lagi aku menatap layar, ada sms dari kurosaki.
"Aku harap ini hanya kabar burung tapi aku dengar tim kristov menjalankan misi yang sama dengan mu em. Dan ku harap kau berhati-hati kalau ada apa-apa hubungi aku pasti kan ku hajar pria itu." Sms ke-dua yang belum aku baca.
"Hei em! Emi!! Kau tak seharusnya marah pada ku! Itukan hal yang sudah biasa kita lakukan.. hei!" Teriak kristov dan mecoba menangkap ku dari langkah ku yang berjalan cepat.
"Ha?" Ujar ku dan menatap matanya lekat-lekat, tangan ku mulai bersiap untuk menamparnya.
"Don't you remeber when we were child?"
"Apaan sih.." ujar ku dan masih menghindar darinya. Aku kembali masuk ke dalam rumah dan diikuti nirina. Nirin mencengkram pundak ku dan aku menatap wajahnya dengan tersenyum gembira. Aku tertawa tekiki-kikik kecil dan wajah ku memerah. Nirina hanya diam tak bertanya pada ku.
"Ada apa?" Ujar ku serius . Wajah merah berubah menjadi serius.
"Apa kau tak lihat?"
"Appan sih nir? Jangan serius gitu dong! Kamu seperti barusan lihat hantu"
"Beneran em!Beneran gak tahu? tadi kan ada tivani di sebelah satoshi."
Shit dan akhirnya apa yang aku tak inginkan terjadi. Tivani adalah mantan pacar kristov dan sekarang jadi pacar satoshi sejak saat bertemu pertama kali di tempat ini. Dan saat itu, tivani mencuri start ku untuk memiliki satoshi. Benar saja aku tak akan mampu menyaingi tivani. Ia wanita cantik,putih,langsing seperti model dan memang ia seorang model harajuku yang terkenal. Karena itu banyak pria yang nempel pada dirinya termasuk satoshi.
"Oh ya? Aku ada kristov!" Ujar ku mencoba menyembuntikan wajah kaget ku dari nirina.
" ya ampun em! K usah begitu juga deh. Terserah dah, aku mau nolong anjing dulu." Nirina kesal dan meninggalkan aku sendiri.
Aku memainkan biola tua itu belum selesai, kristov sudah berdiri di depan ku.
"Apa kau yakin? Kau sduah tak ada hubungan dengan pria itu?" Tanyanya dengan heran.
"Satoshi? Ia guru ku hanya sekedar hubungan murid dan guru tidak salah bukan?"
"Tapi kau terlihat seperti sedikit berharap dan dia juga seperti itu."
"Tidak itu sduah kisah yang usang! Dia sudah jalan bareng tivani bukan?"
"Mereka bukan jalan bareng memang mereka udah tunangan. Tapi tak pernah terkuak pertunangan itu. Dan itulah alasan ku memutuskannya." Cerita kristov membuat mulut ku terbuka lebar. Aku tak bisa berhenti mengaga. Aku kanget dan tak tahu apa yang harus ku lakukan saat itu. Aku pergi sambil melambaikan tangan dan menuju bukit belakang rumah tua ini. Sebenarnya aku tak tahu kalau ada bukit cuma iseng lari dan tidak sengaja menemukan bukit ini. Aku mencari tempat yang pas untuk duduk menikmati pemandangan dan mencerna segala permasalahan ini. Aku duduk sendiri di gazebo yang sepi hanya ada suara gemuruh rumput bergoyang. Walaupun sepi, aku tak bisa menemukan jawaban yang tepat. Beberapa saat kemudian seorang duduk di samping ku. ia rupanya satoshi.
"Kau sudah dengar ya?" Ujar dia tiba-tiba tanpa aku beucap dahulu. Aku tak menjawab hanya menganggukkan kepala. Suara hembusan nafas terdengar oleh ku. Aku ingin sekali menoleh ke arahnya tapi aku tak sanggup.
" lucu sekali jaman modern masih saja ada perjodohan." Ujarnya sambil dibuat-buat. Aku tak tahu harus apa tapi yang pasti, saat ia berbicara seperti hatinya tersayat-sayat. Tangan kiri ku menyentuh pundaknya, dan tangan kanan ku mengelus kepalanya. Kedua gerakan itu gerakan REFLEK yang tak ku hendaki. Sontak aku kaget dan berhenti mengelus kepalanya. Ia memandang ku dengan tatapan yang dalam dan tajam. Ia memeluk ku kemudian. Pelukan hangat sangat erat seperti pelukan pertama kita. Aku tak mengelak dari cengkramannya. Walau sangat kuat tapi terasa hangat. Seperti satoshi yang baru saja aku kenal.
"Aku kira aku bisa bersama mu saat itu. Saat kita pertama tapi, aku sadar semakin aku tenggelam pada alunan mu semakin nyata kesempatan bersama mu adalah nihil!" Suara satoshi bergetar, aku mengusap lagi kepalanya lebih lembut seakan-akan ia adalah anak ku.
"Aku kira saat itu, aku bisa membuat kenangan indah bersama, bertukar cerita, menonton film bersama, melakukan hobi kita bersama, tetapi semakin dalam khayalan ku semakin dibutakan pula pandangan ku sampai saat dia datang. Dia datang membawa tali ikat yang baru agar aku tak terlepas dari ikatannya." Lanjut satoshi. Rasanya cerita satoshi mirip seperti nasib josy tetapi josy lebih beruntung daripada satoshi. Aku tetap mengelusnya lembut dan perlahan. Satoshi hanyut dalam pelukan ku dan aku hanyut terhadapnya. Kita berdua sama-sama dalam keadaan yang paling jelek, keadaan yang sangat rapuh dimana tak ingin ditunjukkan kepada orang lain selain orang yang dicinta. Tanpa ku sadari, tivani sudah ada di sebelah kami. Memandang kami dengan lekat,wajah datar,dan mata menyipit. Shit! Aku pasti di kira tukang cabe-cabean. "Tiv?" Ujar ku melembut. Satoshi bangkit menatap tivani dengan datar dan merangkul ku. Tivani tak berutik ia hanya menatap dengan datar dan pergi beberapa menit kemudian. "Emi? Wanna come with me?" Kristov datang secara tiba-tiba. Krstov! Akhirnya bala bantuan untuk ku datang juga. Aku mengangguk, dan dia menyambut tangan ku. Ini kristov yang aku kenal, selalu datang menyambut tangan ku, selalu menjadi emergency call ku, dan selalu menjadi jalan keluar di setiap kesulitan. Aku tak tahu mengapa di saat aku merindukan kristov kita tak pernah bertemu tetapi di saat aku terjebak dan tersesat membutuhkan pertolongan, ia selalu hadir di samping ku. Ponsel ku bergetar, ku berhnti sejenak dan membukanya rupanya dari jo lagi.
"Nee-san sekarang yang aku butuhkan hanya steven dan kakek sudah menyetujuinya. Kita tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi kita berkomitmen apapun yang terjadi we'll still holding our hand together. Tapi bukan itu juga ku khawatirkan. Rasanya mulai terpikat dengan pria baru yang tak mau aku sebut namanya. Karena itu masih menjadi sebuah rahasia tersendiri bagi ku. Hanya saja aku masih belum bisa membuka hati untuk orang baru. bagaimana kabar si kutil kristov? aku benar-benar mermerindukannya
josy terdengar sangat bahagia,membuat ku sangat-sangat-sangat iri. kristove menepuk pundak ku dengan lembut. aku menatapnya dan ratapannya sangat tajam,serius,dan seakan-akan membutuhkan aku untuk mendengarkannya.
"apa kau tak membuat satoshi dan tivani menjadi pasangan bahagia?" ujar kristov aku terdiam dan menunduk .
"aku tahu ini bukan hal yang normal , 2014 masih ada acara perjodohan,tetapi setidaknya kali ini nyata. mereka akan menikah walau kau merestui atau tidak mereka tak akan peduli" lanjut kristov.
"kita hanya sebatas orang yang hidup dalam kenangan mereka."
"aku tahu! aku tahu kris, kita hanya sebatas orang dalam kenangan walau itu kenangan,mereka tidak akan melupakan kita,begitu pula dengan kita." jawab ku. aku mengahadap ke arah kristov. dan sekarang kita sudah saling berhadapan, tinggi ku hanya setinggi hidung kristov yang mancung itu. aku menyentuh pundaknya sambil tersenyum.
"ayoo kita buat mereka menjadi pasangan yang bahagia!!" ujar ku dengan penuh semangat.
semua rencana sudah kami pikirkan semalaman. dan hari ini kita , aku dan kristov akan memulai rencana kita berdua. walau kami berdua harus ikhlas menerima semusemua,kami tidak bersedih. kami yakin dapat membuat mereka menjadi pasangan yang bahagia.Sehari, Dua hari sudah terlewatkan dan renacana kami menghasilkan hasil yang manis. antara satoshi dan tivani sudah terlihat kemesraan di antara mereka, dari mulai berdansa bersama,bernyanyi lagu ballad bersama,dan tentu saja memasak dan membersihkan rumah bersama. walau kegiatan yang mereka hal yang sepele, tapi itu benar-benar kemajuan yang pesat untuk mereka berdua. dan di hari terakhir sebelum kita kembali ke rumah masing-masing, kami mengelar farawell party. kami ber-BBQ bersama,menari,bernyanyi, dan tak lpa minum sake bersama walau hanya beberapa gelas saja. Kristov bangun dari tempat ia duduk dan mengambil alih perayaan farawell party, ia mengucapkan sepatah dua kata tentang betapa senangnya ia bisa menjadi relawan di sini, bertemu dengan ku kembali dan kenangan manis walau singkat. kristov kembali ke tempatnya sekarang giliran satoshi mengambil alih acara.
"aku benar-benar berterima kasih kepada kalian semua. atas waktu yang singkat ini, aku tak bisa melupakan kalian semua. terlalu banyak kenangan manis bersama di tempat yang tak berpenghuni ini. dan juga, aku bersyukur hanya beerapa hari saja aku bisa memperbaiki hubungan ku dengan tunangan ku,tivani. aku tahu kami berdua mungkin tak akan pernah memiliki perasaan yang bisa menyatu tapi setidaknya, kami berusaha untuk menyatukan perasaan kami tanpa menghilangkan orang yang kami cinta. berkat orang yang kami cinta, kami bisa memiliki pernikahan yang bahagia walaupun tak sepenuhnya seperti itu. Tivani, ayoo kita hidup dengan baik dan bahagia !!" pidato saoshi yang tak terdengar jelas dan tak tercena baik oleh otak ku sempat membuat ku hampir meneteskan air mata. tiba-tiba kristov bagkit dan mengambil alih lagi.
"YOSHIKUNI EMI jika kau berumur 29 dan belum menikah, aku akan datang ke rumah mu dan melamar mu!!!!!!" teriak kencang kristov membuat ku malu. muka ku tersipu malu sampai-sampai aku harus menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku. krstov kembali duduk tapi kali ini ia pindah posisi berada di samping ku tepat.
"baimana?" tanya kristov dengan sedikit sombong.
"kan ku tunggu kau untuk membuktikannya." ujar ku menepuk pundak kristov.
- THe END-
alunan jazz di sebuah cafe clasic menemani pagi ku hari ini. di tambah moccacino yang baru saja datang bersama sepotong roti lapis berlumer keju yang masih hangat membuat pagi ku terlihat sempurna.aku menyeduh sedikit moccacino yang berada di cangkir putih bertuliskan 'Never Understanding Love' berharap hari ini akan berlalu dengan amat sangat lambat. sambil menatap buku tebal berhalaman 2000 lembar, aku mulai mengambil keputusan antara mengambil proyek dosen ku atau proyek The BysGis sendiri. sebenarnya malas untuk bertemu dengan kakek tua itu di england apalagi ia pernah menahan mobil kodok kesayangan ku selama 4 bulan pula sewaktu ia berlibur di tokyo selama 5 bulan. menjengkelkan adalah kata yang pas untuk mendiskripsikan sifat kakek tua itu. Tapi, aku sedikit tak enak dengan Josy. josy selalu menjadi perempuan perkasa yang di kelilingi kesebelasan sepupu yang tak berguna di mata para wanita The BysGis. terkadang aku ingin memaninya tapi, sekali lagi aku malas bertemu kakek itu karena masalah dendam lama yang masih membekas sedikit di kotak kenangan otak ku. meraih ipone5 ku dan mengetuk nama Nolla, wanita tertua dalam member Th BysGis.
"hey wwhats's up!" ujar nolla sedikit berteriak.
"where are you sist?"
"AFRIKAA!! aarrgghh... ada cicak di baju ku?! wushwush!" nolla berteriak sangat keras. suaranya terdengar sampai dua bangku dari tempat ku menikmati roti berlumer keju. padahal,ini belum aku loudspeaker akalau aku loudspeaker bisa-bisa aku tidak di izinkan jadi pelanggan cafe ini lagi.
"ikut The BysGis sist?kasian josy jadi wanita terakhir lagi."
"duh Em! aku gak bisa datang lagi. kau tau kan,kau dan aku masih dendam dengan kakek tua itu walau masalahnya benar-benar masalah kanak-kanak dan lagi, aku terlalu sibuk! pasien ku yang tak sabaran dan suka mengutuk selalu meminta ku memeriksa mereka setiap jam."
"aku tau kau terlalu populer di kalangan manusia bahkan anjing tergila-gila pada mu Nolla."
"sudahlah! aku tak bisa berbicara lama lagi. bye.."
suara Nolla hilang tak terdengar oleh ku lagi. dan kali ini fix sudah! untuk pertemuan The BysGis josy harus seorang diri menghadapi kesebelasan laki-laki payah.
aku menyeruput moccacino ku kembali lalu membaca buku tebal yang menyebalkan tepat di depan ku.aku mengetuk keypad ponsel ku,berfikir mengarang untaian kata maaf dan beribu alasan kepada josy karena tak bisa menemaninya.
send...
tak lama pesan baru masuk dan rupanya berasal dari dosen muda yang tersohor di universitas. dosen ini sebenarnya pernah memberikan beberapa kenangan manis yang tak akan ku lupakan tapi tak pernah ku ceritakan kepada orang lain bahkan kepada nolla atau josy yang selalu dekat dengan ku. kenangan yang berlatarkan di suatu tempat yang tidak romantis dan tak seberapa terkenal dan beberapa tahun lalu terkena tsunami. Di fukushima,kita menjadi relawan menolong segala usia segala jenis makhluk hidup yang sekiranya masih bisa di tolong. Dan saat itu, aku duduk di bangku terakhir SMA dan dia pria berumur 23 tahun kuliah di universitas terkenal dan sekarang ia menjadi dosen di universitas yang sekarang aku tempati. Saat bertemu denganya untuk pertama kalinya di universitas benar-benar gak kaget.hanya saja firasat ku bercabang tentang dirinya.
Lonceng pintu masuk cafe berbunyi. Another customer come. aku menyeruput lagi dan mulai memainkan game fashion icon di ponsel ku. Saking asyiknya aku tak sadar kalau sudah ada seseorang yang duduk di depan ku.'ehheemm!!' Ia berdeham, aku sqdar dengan suara dehaman itu. Aku menatap dirinya dan rupanya."Satoshi-kun" gumam ku pelan menyebut nama seseorang yang baru saja ku pikirkan. "Aahh!! maksud ku, sensei! Gomennasai!" Aku lepas kendali. Dia bukan pria yang dulu memberikan kenangan manis saat menjadi relawan petama kali di fukushima,tapi dia sekarang pria mapan bertambah tampan beribawa dan dewasa duduk di depan ku dengan status sosialnya SENSEI bukan SATOSHI.
Dia berdeham lagi dan menyeruput moccacino ku. MENYERUPUT MOCCACINO KU!! Tepat di tempat bibir ku menempel di bibir cangkir,ia mendaratkan bibirnya juga. 'What? UNDIRECT KISS!!' Teriak ku dalam hati kegirangan dan kaget. Bukannya munarik. Di lainlain sisi benar aku senang banget rasanya mau lonjak-lonjak api gak etis kalau lonjak-lonjal di tempat ini apalagi di depannya.nanti bisa-bisa aku di kira orang gila. Tapi di lain sisi aku menjerit kaget. Main nyeruput minuman orang aja,menapa gak pesan saja secangkir lagi. Pasti lebih enak masih anget.
"Moccacino ini enak sekali! Tak salah kalau kau selalu ke ini tiap pagi."
Aku tercengkang mendengar ucapannya. Kenapa dia tahu kalau aku sering kesini tiap pagi?jangan-jangan dia sering stalking aku.
"Aku sewa apartement di gang depan itu!jadi tahu kalau kamu ke sini tiap pagi. Tenan aku bukan tipe pria yang suka stalking wanita yang ia fans." ucapnya sambil menunjukan gang tepat di depan cafe. Wanita yang ia fans? Aku? Berarti dia masih...
"Oh ya besok kita akan berangkat pagi sekali! Tadi aku sudah bilang ke lainnya lewat sms."
Lewat sms? Ke semua orang? Kenapa aku gak dapat smsnya?
"Aku sengaja tak sms diri mu! Karena aku tahu, kau pasti sedang nongkrong di sini. Sengaja aku mampir sekalian cicipi moccacinonya." Ujarnya lagi dan kali ini akumenundukkan kepala membukam mulut dan pipi ku merona merah. Sedikit nge-fly dengar ucapannya yang begitu membuat ku senang.
"Tapi? Bukanya dulu kamu tak suka kopi? Tapi sekarang malah suka moccacino favorite ku juga." celoteh satoshi lagi. Dari awal celotehannya aku tak menjawab hanya diam mengatupkan bibir membekukan lidah dan pura-pura bisu. Bukannya aku tak suka,malah aku amat sangat suka dengan kehadiranya seperti ini. Tapi ini semua terlalu mendadak dan berlebihan.
"Em! Kau masih marah? Kau bilang kau sudah tak marah dengan ku." suara menjadi lembut
Marah? Aku tak marah hanya saja tak ingin bicara.
"bodohnya aku! Jelas-Jelas kau masih kecewa dengan ku. meskipun kau memaafkan aku tapi kau tetap kecewa dengan ku. "
Aku tak menjawab. Hasrat ingin berbicara membuka bibir ini tapi,tak tahu apa yang harus ku katakan. Aku bukan pujangga yang pintar mengarang beribu alasan yang akan membuat semua hati orang luluh akan alasan yang tak benar faktanya. lalu terdengar oleh ku menghela nafas kebingungan dengan sikap ku.
"Aku tak berhak melarang mu untuk mencaci maki diri ku dalam hati karena memang aku pria yang brengsek saat kejadian itu. Tapi kau tau? That was my sweetest memory an i'll never forget it. Dan aku berharap, aku bisa memperbaiki kesalahan ku dan membuatnya lebih lebih blkenangan yang terbaik lagi." kini suaranya lebih lembut dan terdengar rapuh di telinga ku. Aku menatap wajahnya. Matanya! Matanya seperti berkata kalau dia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat kepada ku. Dalam tatapan ku, Ia seperti ingin menangis. Iq mengacak-acak rambutnya yang sudah agak godrong itu. Ia berdiri..
" i know Em! I'm the jerk one! And you deserve to hate me." Dan akhirnya ia pergi keluar begitu saja. Aku menatap punggungnya yang pergi dan yang ku lakukan melanjutkan permainan fashion icon di ponsel.
"I think i'm the jerk one!" Gumam ku sambil mengerutkan bibir dann kemabali bermain fashion icon. aku berhenti meletakkan tablet ku di atas kitab yang tebal. mata ku terpaku menatap tulisan di cangkir 'never understanding love' melamun entah kemana hayalan ku membawa ku ke suatu alam bawah sadar yang dapat membius ku beberapa menit dari gerak-gerik kehidupan di sekitar. mungkin memang satoshi yang salah tetapi,kemungkinan besar aku penyebab kesalahan satoshi jadi, dengan akata lain aku adalah kambing hitam dari semua konflik 3 tahun lalu. dan sebenarnya aku sudah sadar dengan kesalahan ku ini. aku hanya... hanya.. hanya.. tak tahu bagaimana merangkai kata-kata yang pas untuk berucap di depannya, menatap sepasang bola mata yang akan membuat ku membungkam begitu saja, lalu menatap lekukan bibir yang membuat tubuh ku mati gaya. aku tak bisa! dan mungkin saja aku kalah!! kalah melawan ego ku yang terlalu besar,
ego yang selalu mengontrol sampai mendoktrin otak ku jika perempuan tak berhak bekata maaf di depan seorang pria karena kodrat wanita bukan untuk MENGEJAR tapi untuk DIKEJAR! doktrin yang tumbuh dari didikan kakek tua kami. dan salah ku juga mudah menelan didikan pria tua bangka yang tinggal menunggu waktu ajal tiba.
10.00 a.m.
aku tak sadar sudah lebih 2 jam berdiam diri menyalahkan diri sendiri di sini selama ini. aku tak memiliki kegiatan yang penting hari ini. aku putuskan sekedar mampir di ruang club 'PECINTA SEGALA MAKHLUK HIDUP' yang di dirikan oleh satoshi-kun. club ini sudah berdiri lebih dari 18 bulan tetapi, sampai detik ini belum dapat nama yang pas sesuai hati kami semua. kira-kira sudah 16 kali kita mengganti nama club tetapi tetap saja belum ada yang cocok. ruang club terlihat lenggang seperti biasa. hanya ada 5 orang saja. ketua,wakil,seketaris,bendahara,dan tak lupa satoshi. aku masuk dengan mulut masih membungkam rapat menuju kursi di pojok dekat dengan kandang anjing lambrador yang beberapa hari lalu kami temukan dengan keadaan kritis di sebuah gang sempit. anjing itu menggonggong menyapa ku. sekecil senyiman tak terlukis di bibir ku, hanya lekukan bibir kaku yang datar terpampang jelas di wajah ku. aku meletakkan tangan di kandang,dan ia menempelkan tubuhnya di tann ku seolah-olah ia sedang aku elus padahal bukan. aku hanya ingin membalas sapaan lambrador tersebut. 'klutuk' suara pesan masuk. aku tak membukanya hanya asyik menatap sikap lambrador itu yang masih bergelut dengan tangan ku yang menempel di kandangnya. 'klutuk' pesan kedua masuk tapi tetap aku hiraukan. 'klutuk' pesan ketiga,'kluk' pesan keempat,'klutuk' pesan kelima. dan akhirnya sampai lagu don't i - teen top berbunyi, aku mengambil ponsel dari saku jins emba ku.
"eehhm?" gumam ku. tapi tak ada balasan. aku hampir, hampir ingin pencet end call rupanya waja yoonpa terpampang di layar ponsel. kalau josy selalu dekat dengan boom, tapi aku selalu dekat yoonpa. nama aslinya adalah Park Jong yoon. di ambil nama akhirnya yoon di tambah akhiran dari kata Oppa akhirnya namanya berubah menjadi yoonpa. ia terliha tersenyum pada ku aku tersenyum padanya.
"oppa!"teriak ku sedikit manja.
"emi-chan?" jawabnya dengan gaya sok imut. tiba-tiba seluruh orang menoleh ke arah ku. aku mengeluarkan headset dan berbalik ke arah kanan. kami berbincang-bincang panjang lebar seolah-olah kita pasangan burung yang saling jatuh cinta,tak bisa berhenti berkicau. Tapi ,kalau kami berdua tak bisa berhenti mengeluarkan senyuman yang termanis sebisa kita berdua. menatap mata yoonpa lebih muda daripada menatap mata satoshi. walau aku terlihat asyik bervideo call-ria, aku sempatkan untuk melirik ke arah kawan-kawan satu club ku berkumpul. dan sesuai dugaan ku! aku mendapati tak sengaja satoshi melirik ku dengan wajah merah padam seperti ingin meledak. walaupun ia meledak,ia tak berhak untuk meledak kepada ku. mengumpat ku atau mengutuk yoonpa karena anatar aku dan dia sudah berakhir. "ha? Married? who with who?" teriak ku spontan dan sekali lagi, teriakan ku menarik perhatian anggota yang lainnya. aku kembali berputar dan memberikan mereka pandangan punggung ku yang tak seperti malaikat tanpa sayap ini. yoonpa menceritakan segalanya tentang laurance dan clara. aku sedikit khawatir tentang josy. josy wanita yang rapuh walau kelakuannya tak pernah menampakkan kerapuhannya yang amat dalam. kelakuan josy memang bisa memanipulasi apa yang ia sedang pikirkan. orangkan terkecoh dari penampilan josy,karena begitulah josy. beberapa konflik kehidupan yang akhirnya membentuk dirinya seperti berpakaian besi,bertopi baja,dan bertombak panjang padahal dia tak seperti itu. hatinya sama seperti wanita lainnya malah sedikit lebih lembut. selembut air mengalir yang tak dapat di raih oleh tangan kosong.
"aku capek nee-san! sudah capek di buat melayang olehnya. semakin lama ia membuat diri ku melayang lebih tinggi dari pada biasanya,membuat ku hampir yakin dia seorang yang akan menjadi tempat naungan ku berteduh dari segala penat karena konflik yang tak pernah selesai di antara aku,kakek buyut,dan orang tua biologis ku. ya ampun! aku seperti wanita yang bodoh! sudah terlena oleh semua bualan dia dan perhatian dia selama ini! 8 tahun dia berbual dan mengobral perhatian kepada ku. rupanya itu hanya akal busuk saja. walau sebenarnya dia benar-benar tulus perhatian kepada ku. benar sih tulus! tapi dengan sebuah alasan simple 'kasian' ia mengobral perhatian yang memang sejak awal bukan untuk melayangkan diri ku tapi hanya sebagai melampaiaskan rasa simpati belaka. malang nasib ku ini! seharusnya sejak awal aku tahu! Steve satu-satunya orang yang mengerti diri ku dan perhatian kepada ku bukan karena alasan yang sesimpel itu yang alhirnya membuat ku melayang lebih tinggi dan jatuh lebih sakit dari biasanya."
balas josy setelah aku mengiriminya sms menanyakan apa yang sedang terjadi di sana. steve! benar hanya steve yang tahu apa yang selalu menjadi isi hati josy. nee-chan, panggilan akrab josy kepada ku, seolah-olah aku ini kakaknya sendiri. tapi, itu hampir benar. dia adik sepupu ku bukan? jadi,josy bisa dikatakan juga adik ku.kakak? rasanya aku rindu dengan kakak ku sendiri. lelaki pertama sebelum yoonpa yang selalu membuat diri ini nyaman untuk mengutarakan apa saja yang aku ingin ku ucapkan. dari ucapan non-sense sampai pembicaraan yang serius ia tetap mau mendengarkan ku. nama kakak ku sudah terpampang di layar,tinggal aku touch yang berwarna hijau aku bisa bertukar cerita denganya kembali. haduh! rasa rindu mulai menyelubungi diri ku. satoshi mendekati ku, memberikan sebungkus roti coklat. aku mengadahkan wajah menatap matanya lekat-lekat walau sebenarnya aku tak kuat lagi menatap matanya itu. terlihat satoshi sudah mulai membuka bibirnya seakan-akan ia ingin mengatakan sesuatu pada ku. tiba-tiba saja ia mengatupkan bibir dan berpaling meninggalkan tempat ku. aku menatap punggungnya lekat-lekat. punggung yang sedang berjalan lurus itu adalah penghancur hati ku yang tak bisa ku lupakan kenangan yang dulu pernah kami buat bersama saat pertama kali bertemu dan esok pagi,aku dan dirinya akan berada di tempat penuh sejarah bagi hati kita berdua yang pernah berlabuh satu sama lain. lagu don't i teentop terdengar lagi, aku menatap layar ponsel dan rupanya dari Kurosaki,kakak ku. dengan cepat secepat rasa rindu menghantui diri ku,aku menerima telepon itu. aku membungkam bibir dengan tangan kanan. aku tak kuasa lagi! rindu yang menghantui sudah terlalu tebal seperti awan hitam yang mengumpal pembawa air hujan. dan akhirnya awan hitam itu meneteskan air hujan setetes demi setetes air mata ku jatuh. butiran air begitu sa keluar dari mata ku tanpa ku rencanakan. awalnya hanya setetes tapi lama kelamaan tetesan itu semakin deras. aku terisak-isak tak bisa bekata lagi. aku memilih menutup ponsel dengan tiba'tiba disaat tengah-tengah cerita kakak ku. sekali lagi! aku menyita pandangan semua orang yang berada di depan. mereka menatap ku dengan tatapan keheranan dan keanehan terlintas juga tatapan menjijikkan sekilas. aku berdiri,menuju pintu membungkuk untuk menyampaikan salam dan saat aku sah menup pintu, aku berlari tanpa arah yang pasti. aku tak tahu harus kemana dan siapa aku berlari menuangkan rasa rindu ini. shit aku terlihat seperti wanita yang ceroboh!
Mega stereo dalam volume yang full memutarkan lagu Blue dari boyband bigbang. tidak, tidak semua boyband itu bencong. tetapi ada yang manly seperti bigbang. mereka tidak terlihat amat sangat bencong dengan tubuh yang lencir gemulai tidak! mereka tidak seperti begitu. mereka pria yang berbadan bidang,bersuara merdu,bergaul dengan asyik, dan bad boys but nice. yes they are! kecuali GD dia tak berbadan bidang,tidak berhati besar,tidak bergaul dengan asyik,dan pastinya bad boy yang almost menuju ke worse boy. tersinggung? ya maaf mau gimana lagi! itu GD yang aku kenal sejak aku TK kemungkinan sejak aku belum lahir dan merenggut nyawa ibu ku sendiri kami sudah saling kenal. selalu jahil,menjambak rambut ku,mengejek ku,berberteriak pada ku,dan tubuhnya? ya ampun sangat amat malnutrisi. tapi mau tak mau aku harus mengakuinya,dia atau GD adalah salah satu The BysGis tertua nomer 2 setelah om gan. tak percaya kan? apalagi aku! aku masih ingat apa yang dia teriakkan sewaktu ia ditrima menjadi murid trainer SM entertaiment dan aku juga masih ingat apa yang ia katakan pada ku via telepon rumah saat ia bergabung ke YG entertaiment, gara-gara itu ia di marahi ayahnya tagihan telepon rumah jadi melonjak mahal. aahh... aku jadi rindu dengan semua sepupu ku. 'tingtong!' suara bel rumah ku terdengar. aku membuka pintu dan sudah ada satoshi berdiri didepan pagar rumah. 'hey!emi!kau harus menghampirinya!' bisik otak ku pada diri sendiri. kaki ku bergerak,melangkah dengan sedikit rasa ragu-ragu. sempat aku menghela nafas dan menelan air ludah. perasaan ini bukan seperti 'i see a prince charming' tapi seperti 'i see the devil' sehingga aku melangkahkan kaki ini dengan sedikit rasa takut. takut the devil akan menerkam ku atau mengubah ku menjadi zombie.
"aah aku hanya mau memberikan ini." satoshi menyodorkan sebuah kertas putih seperti undangan ke pesta. aku tak tahu undangan apa itu yang penting antara pesta pernikahan dan hari jadi club kami. kami berdua diam selama beberapa menit. terlihat oleh ku sosok yang menoleh ke arah kanan sambil menunduk dan tatapan tajam sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. kemungkinan topik yang harus ia ucapkan sehingga pembicaraan ini tak menjadi garing dan kita tak menjadi patung yang sejak tadi di tonton oleh para pejalan kaki. aku menatap lurus ke wajahnya tepat! tanpa perasaan ragu atau malu. "ciee ehem! ada pria di depan rumah Emi-chan cie...." beberapa teman lama ku lewat dan menyahuti kita. barulah itu pipi ku berubah menjadi merah. aku menunduk dan menatap ke arah lain dan tersipu malu. TERSIPU MALU!! aku mencuri pandangan ke arah satoshi dan rupanya ia juga sedang merona. expresi yang belum pernah ia tunjukkan kepada ku sebelumnya. "sensei! sensei,mau masuk?" akhirnya aku bersuara! aku membukakan pagar kecil setinggi lutut ku. "aah tidak! tak usah! aku hanya ingin mengantarkan saja,tak ada niatan untuk mampir." ucapnya yang sedikit membuat ku jatuh. bukan jatuh ke tanah tapi sedikit remuk lah perasaan ku. "Emi?!" suara pria lain terdengar di balik punggung satoshi. aku menjinjitkan sedikit kaki ku dan terlihat, kakak ku di belakang satoshi sekarang! dengan cepat aku membuka pagar,menyenggol pundak satoshi kemungkinan dengan keras,dan memeluk kakak ku. "ni-chan! sejak kapan datang? kok jalan kaki? mobilnya mana? sudah makan? kebetulan aku sudah masak,masuk ke dalam?" ujar ku dengan kegirangan. akhirnya salah satu orang ku rindukan hari ini berada di samping ku dan aku tak menyangkan itu adalah kakak ku. "emi,ada tamu kan?" jawaban singkat kakak ku. aku menoleh ke arah ke satoshi dan mulai membuka mulut untuk mengenalkannya. " halo saya dosen di universitas emi,saya pembimbing club yang ia ikuti. saya cuma datang memberikan lembaran kertas itu. dan sekarang saya mau pamit!" ucapnya lalu ia membungkuk dan pergi berjalan menjahui aku dan kakak ku.
aku mengutarakan semua kejadian itu. kejadian dimana menjadi kenangan manis dan pahit yang sebelumnya tak pernah aku rasakan. aku sudah terbiasa bercerita tentang masa lalu ku bersama satoshi. sudah tak ada air mata yang turun lagi saat cerita itu di putar kembali. Serasa aku bisa lepas dari segala ikatan yang selama ini mengahantui ku selama ini, hantu masa lalu bertampang seram tapi selalu membawa satu ember penuh dengan permen manis membuat ku tertarik untuk merasakan manisnya, selalu ingin membuat ku merasakan rasa manisnya...
"Biarkan aku mengantar mu besok!" Ujar kakak ku,kurosaki. Aku terdiam tak memberikan jawaban. "Akan ku antar sampai tujuan!"ucapnya lagi tapi aku tak membuka mulut untuk menjawab ucapannya. "Susah?berikan ponsel mu!aku akan menelpon guru mu!" Jengkel kurosaki dan ia mengambil ponsel ku yang tergeletak seperti tak bertuan di meja kecil dekat TV. Akhirnya kurosaki bercakap ria dengan satoshi. Ya tuhan! Semoga saja sewaktu expedisi pertolongan hewan esok kau kirim malaikat penolong untuk ku.
Pagi telah datang. Ketinggian matahari sudah menunjukan pukul 7. Aku berdiri di depan pagar rumah seorang diri sambil meniupkan udara ke tangan ku. Seperti biasa pagi ini seperti hari yang lalu! Suhu masih -5°C brrr.. walau tak seberapa dingin,tetapi ini termasuk dingin untuk ku. 450 detik kemudian, kurosaki datang dengan mobilnya yang baru saja selesai di bengkel yang terletak 2 gang dari sini. Perjalanan ke fukushima di tempuh 5 jam perjalanan kendaraan roda 4.anggota club lainnya berkendara dengan mini bus yang di sewa dengan uang kas kita yang lumayan banyak. Tak ada anggota yang bisa ku hubungi kecuali Nirina. Sahabat lama ku yang sudah membanting perasaan,jatuh,bangun bersama ku sejak SMP. Sebenarnya dia bukan sahabat ku tapi hanya teman dekat yang sudah klop di hati ku. Persahabatan itu tak perlu dengan ucapan SAHABAT tapi hanya perlu ikatan batin yang terjalin kokoh sejak lama. Nirina sudah tahu bagaimana bunga sakura bersemi di hati ku dan satoshi dulu karena nirina ikut dengan ku menjadi volunter amatir untuk pertama kalinya. "Em?" Panggil Kakak ku. Aku menoleh ke arahnya.
"bagaimana perasaan mu pada pria itu?"
"Entahlah! Aku tak tahu! Menaruh hati kepada seseorang yang tua itu sangat amat membingungkan. Sehari itu aku bisa di buatnya terbang melayang-layang dengan sayap yang terbuat dari pelopak bunga ume. Sehari itu juga aku bisa dibuatnya jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam bersama dengan keledai yang asik menatap ku."
"Keledai? "
"yap! Keledai! Keledai hewan yang selalu jatuh pada lubang yang sama berkali-kali."
"Berarti kamu mendiskripsikan kamu bodoh? What?"
"Iyaa benar aku bodoh. Karena menaruh hati kepada seseorang itu tak pernah bisa berjalan dengan pikiran selalu mata kebenaran di butakan oleh perasaan yang tak menentu dan hanya membuat diri ku terbelenggu di hubungan yang akan di benci semua wanita."
"Dan tak semua orang dewasa itu berfikir dewasa. Kemungkinan orang dewasa berfikir dengan cara yang sama seperti orang yang jauh lebih muda. Haah! Kenapa menyukai seseorang itu selalu merumitkan?!" Ujar ku dan mulai frustasi. Kakak ku mengelus kepala ku dan aku jatuh ke dalam lautan perasaan yang menentu.
"Serasa aku ini spora bunga dandelion yang sudah mekar dan terbang mengikuti aluran angin yang meniup ku." Ucap ku mengeluh. Mengeluh adalah hal yang aku benci karena di saat aku mengeluh berarti selalu saja sesuatu yang tak bisa ku raih.memang selalu ada sesuatu bukan satu hal tapi kemungkinan banyak hal yang tak bisa di raih oleh manusia, tapi setidaknya hal yang tak bisa di miliki itu pernah ku genggam erat di tangan ku. Headset sudah menyumpal telinga ku dan membawa ku ke dalam mimpi yang indah.
Seberkas cahaya terlihat di mata ku. Punggung satoshi dan kurosaki terlihat jelas di depan ku. Mereka sepertinya mengobrol sesuatu,sesuatu yang tak bisa ku dengar dan tak ku ketahui. Aku membuka pintu mobil dan mereka berdua bejabat tangan sepertinya mereka hanya mengobrol sesuatu yang tidak aneh-aneh atau menyangkut diri ku. Aku menatap wajah kurosaki dengan heran dan ia mengangkat kedua bahunya. "Boys talk" ujarnya dan pergi membawakan ransel ku. Aku melewati pagar lebar,luas,megah dan kokoh. Pagar yang dulu masih sering dilewati oleh para pelajar SD sekarang menjadi basecamp kami untuk 4 hari sebelum kami harus pindah ke selatan dan bertemu dengan relawan yang lainnya berasal dari universitas Y. Ya tuhan aku harus bertahan 4 hari sebelum akhirnya bertemu orang baru. ransel dan koper ku sudah ku letakkan di ruangan kelas 4-4, aku mlangkah melihat-melihat ruangan demi ruangan. Dan akhirny aku melangkah ke sebuag ruangan luas. Hanya ada sebuah grand piano tertutup tak bertuan. Tak ada yang memainkanyya, piano itu berdebu terlihat seperti diri ku. Kesepian dan hanyut akan penungguan yang tak berujung. Aku melangkah mendekat,membuka piano dan aku mulai menekan tuts do, terdengar bunyi yang merdu klasik seperti baru saja di beli. Sore itu bercahaya langit oranye,aku memainkan sebuah lagu klasik yang jelas tak ada yang tahu lagu apa itu. Hanya aku dan piano tahu apa yang sedang ku mainkan. Setap tuts piano mengandung apa yang selama ini ku pendam. Sore ini piano tua dan aku saling bercerita apa yang sudah membuat kita menangis bersama.
3 hari telah lewat. Benar seperti dugaan ku! Aku menghabiskan hari-hari hanya bersama hewan dan nirina. mengobrol ala kadarnya dan bercanda bersama anggota lainnya. Berpapasan tak menatap tak menyapa saling membisu saling menatap mata memberikan rasa rindu yang tertahankan oleh realita. setiap malam,aku memohon berkali-kali pada tuhan agar aku terlepas dari segala ikatan yang hanya membuat ku seperti boneka porselin nan cantik tapi tak pernah di mainkan hanya sebagai pajangan di lemari kaca. Kami berangkat meninggalkan basecamp ini meninggalkan wilayah kecil yang tak pernah ku lupakan. Di tempat ini, aku mencurahkan hati ku untuk pertama kalinya. 3 jam perjalanan akhirnya sampai pada daerah yang sedikit tak asing oleh ku. Anjing labrador menyalak ke arah ku. Aku mendekatinya perlahan-lahan, tangan ku mencoba menyentuhnya. Langkah ku sudah pasti lambat,hati ku menahan nafas, jantung ku dagdigdug bagaimna jika aku di gigit oleh anjing ini yang tiba-tiba ia mengidap rabies atau terkontaminasi dalam tahapan yang sudah berat? Rasanya itu seperti menatap jubah malaikat maut yang lewat tapi tanpa senjatanya. Satoshi mendekat dan sekarang sejajar dengan ku. Tanganya juga ingin meraih anjing itu,tapi tangan satoshi teelebih dulu yang menyentuh anjing itu. "Satosui-kun?" Gumam ku pelan. Satoshi tersenyum lebar,anjing itu mulai bermanjaan di tangannya. Membelai dengan penuh kasih sayang yang tak terungkap. "Apa kau tahu? Anjing ini dulu yang pernah kita selamatkan. Dulu ia kecil dan tak pernah sopan dan sekarang ia malah lebih parah sifatnya." Ujar satoshi sambil memanjakan anjing itu dengan tangannya. Anjing? Ahh... aku teringat! Gara-gara anjing ini kita bertemu dan menjalin kasih walau hanya sebentar. "Dan gara-gara anjing ini,aku mengenal mu. Bisa berbicaradengan mu setelah dari awal bertemu aku selalu ingin berbicara tapi tak ada kesempatan saat itu." Tiba-tiba satoshi berucap kembali. Aku sedikit shock tak berbicara. Bibir ku mengatup rapat. Aku berdir seperti patung,gugup,bingung,mati rasa saat itu juga satoshi berdiri dan menepuk pundak ku dengan tangan yang satunya,yang masih bersih lalu meninggalkan ku sendiri bersama anjing labrador yang masih menjulurkan lidahnya tapi tatapannya masih marah. Aku meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam sebuah rumah kuno kemungkinan jaman edo tak begitu besar tapi cukup menapung kami semua. Rumah ini tua sampai-sampai kayu lantainya akan berbunyi 'jiit' jika kamu berjalanan dengan pelan atau santai. Baunya seperti bau kayu pinus,harum tapi tak menyengat. Seperti biasa, aku mulai menelusuri ruanan di setiap rumah. Rumah ini berbeda dengan sekolah SD yang kemaren. Selalu ada barang yang unik dan membuat ku tertarik tapi di rumah ini aku hanya dapat menemukan alat sekadarnya aja. Kecuali biola tua tahun 1956, 1956? Tua seperti rumah ini. Ya ampun apa tidak ada barang modern sedikitpun di rumah ini? Serasa aku hidup 20 tahun lebih tua! tapi biola ini barang lumayan juga. Bisa untuk menghibur diri sendiri. Aku menjelajah lagi,membuka semua laci di setiap lemari dan aku menemukan foto keluarga. Foto tua dan kelihatannya yang tinggal disini nenek berumur 72 tahun seorang diri yang sedang menunggu suaminya pulang berlayar dan tak kembali pulang selama 40 tahun. Aku tahu karena ada surat cinta yang tertulis singkat terselip di tengah-tengah album foto. nenek itu menunggu kakek itu pulang dan selama itu,ia membesarkan ke-3 putranya yang bisa aku bilan tak terlalu jelek juga. ponsel ku bergetar 2 kali. 2 sms telah masuk . Aku membuka sms yang pertama
"Nee-san, aku bertemu degan ibu ku. Rosaline H. Crocs bertambah cantik! Sangat menawan,anggun,dan seperti biasa angkuh,garang tapi selalu seperti pantas untuknya. Alasan kakek memberkati laurnce karena ia tak ingin aku seperti rose walaupun wajah ku seperti fank,aku masih anak kandung rose yang tentunya memiliki sifat yang mirip dengannya walau tak semuanya. Aku tak tahu jika pernikahan yang bahagia bisa membuat roasaline terlihat lebih cantik dan bahagia walau wajahnya masih terlihat mendendam perasaan dendam yang lama kepada kakek. Dan frank,terlihat sangat amat tampan! Setelan tuxedonya membuat ia seperti pria gagah. Dan aku juga tak mengerti bagaimana perceraian bisa membuat frank menjadi tampan dan bahagia seperti ini. Dan kau tahu? aku mulai berkomitment akan memanggil frank dengan sebutan 'dad'. Enatalah aku rasa ia berhak ku panggil seperti itu karena itu adalah kebenarannya ia adalah ma dad." Dari Josy memberi tahu kebahagiannya yang mulai menjadi lebih bersinar. ya ampun aku mulai penasaran bagaimana kalau aku bisa sebahagia josy lagi? beberapa foto di kirimkan yoonpa melalui line. Terlihat juga saat josy berdempet oleh kedua pria yang berebut bouquet, aku memiliki firasat kalu akan ada kisah triangle love versi josy. Aku keluar mencari beberapa snack tertinggal di bagasi mobil. Aku mulai membuka bagasi dan mulai mengangkut bahan snack. "Kau seharusnya meminta bantuan kepada orang lain." Ujar seseorang yang tiba-tiba berada di sebelah kanan ku. Kewakan badan yang memang kelakian banget,suara yang berat,kacamata berframe bubble gum membuat ku menoleh ke wajahnya. "Kau punya nirina kan? Kenapa kau selalu mencoba sok tegar kau memang tak pernah berubah!" Ucapnya sekali lagi. Ucapannya itu membuat ku terpana padanya serasa ia tak asing bagi ku. Untuk pertama kalinya aku melakukan hal bodoh untuk menyakinkan diri ku kebenaran identitas yang muncul dan tak asing oleh ku. Aku mencium ke arah lejernya dan tercium aroma lavender, lavender seperti aroma yg selalu di miliki oleh....
"Kristov!!!" Jerit ku dan langsung memeluknya dengan erat. Aku mencengkram pelukan ku sekuat tenaga hampir saja aku membuat dia terguling dan untung saja ia dapat menahanya. Aku mulai mencium dirinya di segala penjuru wajahnya. Pipi,hidung,dan kening sudah aku cium. "Ciuman mu terlalu parah,Em!" Ujarnya sedikit protes.
"Seharusnya kau mencium ku seperti..." sebelum selesai ucapannya, ia menarik pingang ku,aku memejamkan mata dan akhirnya kami berciuman yang seperti seharusnya kita lakukan, bibir bertemu bibir.
"Eheem!!" Suara dehaman seseorang menghentikan ciuman kami berdua. THATS MY FIRST KISS!! Aku menampar pipi kristov dengan keras dan suaranya terdengar sangat nyaring.
Ponsel ku bergetar lagi aku menatap layar, ada sms dari kurosaki.
"Aku harap ini hanya kabar burung tapi aku dengar tim kristov menjalankan misi yang sama dengan mu em. Dan ku harap kau berhati-hati kalau ada apa-apa hubungi aku pasti kan ku hajar pria itu." Sms ke-dua yang belum aku baca.
"Hei em! Emi!! Kau tak seharusnya marah pada ku! Itukan hal yang sudah biasa kita lakukan.. hei!" Teriak kristov dan mecoba menangkap ku dari langkah ku yang berjalan cepat.
"Ha?" Ujar ku dan menatap matanya lekat-lekat, tangan ku mulai bersiap untuk menamparnya.
"Don't you remeber when we were child?"
"Apaan sih.." ujar ku dan masih menghindar darinya. Aku kembali masuk ke dalam rumah dan diikuti nirina. Nirin mencengkram pundak ku dan aku menatap wajahnya dengan tersenyum gembira. Aku tertawa tekiki-kikik kecil dan wajah ku memerah. Nirina hanya diam tak bertanya pada ku.
"Ada apa?" Ujar ku serius . Wajah merah berubah menjadi serius.
"Apa kau tak lihat?"
"Appan sih nir? Jangan serius gitu dong! Kamu seperti barusan lihat hantu"
"Beneran em!Beneran gak tahu? tadi kan ada tivani di sebelah satoshi."
Shit dan akhirnya apa yang aku tak inginkan terjadi. Tivani adalah mantan pacar kristov dan sekarang jadi pacar satoshi sejak saat bertemu pertama kali di tempat ini. Dan saat itu, tivani mencuri start ku untuk memiliki satoshi. Benar saja aku tak akan mampu menyaingi tivani. Ia wanita cantik,putih,langsing seperti model dan memang ia seorang model harajuku yang terkenal. Karena itu banyak pria yang nempel pada dirinya termasuk satoshi.
"Oh ya? Aku ada kristov!" Ujar ku mencoba menyembuntikan wajah kaget ku dari nirina.
" ya ampun em! K usah begitu juga deh. Terserah dah, aku mau nolong anjing dulu." Nirina kesal dan meninggalkan aku sendiri.
Aku memainkan biola tua itu belum selesai, kristov sudah berdiri di depan ku.
"Apa kau yakin? Kau sduah tak ada hubungan dengan pria itu?" Tanyanya dengan heran.
"Satoshi? Ia guru ku hanya sekedar hubungan murid dan guru tidak salah bukan?"
"Tapi kau terlihat seperti sedikit berharap dan dia juga seperti itu."
"Tidak itu sduah kisah yang usang! Dia sudah jalan bareng tivani bukan?"
"Mereka bukan jalan bareng memang mereka udah tunangan. Tapi tak pernah terkuak pertunangan itu. Dan itulah alasan ku memutuskannya." Cerita kristov membuat mulut ku terbuka lebar. Aku tak bisa berhenti mengaga. Aku kanget dan tak tahu apa yang harus ku lakukan saat itu. Aku pergi sambil melambaikan tangan dan menuju bukit belakang rumah tua ini. Sebenarnya aku tak tahu kalau ada bukit cuma iseng lari dan tidak sengaja menemukan bukit ini. Aku mencari tempat yang pas untuk duduk menikmati pemandangan dan mencerna segala permasalahan ini. Aku duduk sendiri di gazebo yang sepi hanya ada suara gemuruh rumput bergoyang. Walaupun sepi, aku tak bisa menemukan jawaban yang tepat. Beberapa saat kemudian seorang duduk di samping ku. ia rupanya satoshi.
"Kau sudah dengar ya?" Ujar dia tiba-tiba tanpa aku beucap dahulu. Aku tak menjawab hanya menganggukkan kepala. Suara hembusan nafas terdengar oleh ku. Aku ingin sekali menoleh ke arahnya tapi aku tak sanggup.
" lucu sekali jaman modern masih saja ada perjodohan." Ujarnya sambil dibuat-buat. Aku tak tahu harus apa tapi yang pasti, saat ia berbicara seperti hatinya tersayat-sayat. Tangan kiri ku menyentuh pundaknya, dan tangan kanan ku mengelus kepalanya. Kedua gerakan itu gerakan REFLEK yang tak ku hendaki. Sontak aku kaget dan berhenti mengelus kepalanya. Ia memandang ku dengan tatapan yang dalam dan tajam. Ia memeluk ku kemudian. Pelukan hangat sangat erat seperti pelukan pertama kita. Aku tak mengelak dari cengkramannya. Walau sangat kuat tapi terasa hangat. Seperti satoshi yang baru saja aku kenal.
"Aku kira aku bisa bersama mu saat itu. Saat kita pertama tapi, aku sadar semakin aku tenggelam pada alunan mu semakin nyata kesempatan bersama mu adalah nihil!" Suara satoshi bergetar, aku mengusap lagi kepalanya lebih lembut seakan-akan ia adalah anak ku.
"Aku kira saat itu, aku bisa membuat kenangan indah bersama, bertukar cerita, menonton film bersama, melakukan hobi kita bersama, tetapi semakin dalam khayalan ku semakin dibutakan pula pandangan ku sampai saat dia datang. Dia datang membawa tali ikat yang baru agar aku tak terlepas dari ikatannya." Lanjut satoshi. Rasanya cerita satoshi mirip seperti nasib josy tetapi josy lebih beruntung daripada satoshi. Aku tetap mengelusnya lembut dan perlahan. Satoshi hanyut dalam pelukan ku dan aku hanyut terhadapnya. Kita berdua sama-sama dalam keadaan yang paling jelek, keadaan yang sangat rapuh dimana tak ingin ditunjukkan kepada orang lain selain orang yang dicinta. Tanpa ku sadari, tivani sudah ada di sebelah kami. Memandang kami dengan lekat,wajah datar,dan mata menyipit. Shit! Aku pasti di kira tukang cabe-cabean. "Tiv?" Ujar ku melembut. Satoshi bangkit menatap tivani dengan datar dan merangkul ku. Tivani tak berutik ia hanya menatap dengan datar dan pergi beberapa menit kemudian. "Emi? Wanna come with me?" Kristov datang secara tiba-tiba. Krstov! Akhirnya bala bantuan untuk ku datang juga. Aku mengangguk, dan dia menyambut tangan ku. Ini kristov yang aku kenal, selalu datang menyambut tangan ku, selalu menjadi emergency call ku, dan selalu menjadi jalan keluar di setiap kesulitan. Aku tak tahu mengapa di saat aku merindukan kristov kita tak pernah bertemu tetapi di saat aku terjebak dan tersesat membutuhkan pertolongan, ia selalu hadir di samping ku. Ponsel ku bergetar, ku berhnti sejenak dan membukanya rupanya dari jo lagi.
"Nee-san sekarang yang aku butuhkan hanya steven dan kakek sudah menyetujuinya. Kita tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi kita berkomitmen apapun yang terjadi we'll still holding our hand together. Tapi bukan itu juga ku khawatirkan. Rasanya mulai terpikat dengan pria baru yang tak mau aku sebut namanya. Karena itu masih menjadi sebuah rahasia tersendiri bagi ku. Hanya saja aku masih belum bisa membuka hati untuk orang baru. bagaimana kabar si kutil kristov? aku benar-benar mermerindukannya
josy terdengar sangat bahagia,membuat ku sangat-sangat-sangat iri. kristove menepuk pundak ku dengan lembut. aku menatapnya dan ratapannya sangat tajam,serius,dan seakan-akan membutuhkan aku untuk mendengarkannya.
"apa kau tak membuat satoshi dan tivani menjadi pasangan bahagia?" ujar kristov aku terdiam dan menunduk .
"aku tahu ini bukan hal yang normal , 2014 masih ada acara perjodohan,tetapi setidaknya kali ini nyata. mereka akan menikah walau kau merestui atau tidak mereka tak akan peduli" lanjut kristov.
"kita hanya sebatas orang yang hidup dalam kenangan mereka."
"aku tahu! aku tahu kris, kita hanya sebatas orang dalam kenangan walau itu kenangan,mereka tidak akan melupakan kita,begitu pula dengan kita." jawab ku. aku mengahadap ke arah kristov. dan sekarang kita sudah saling berhadapan, tinggi ku hanya setinggi hidung kristov yang mancung itu. aku menyentuh pundaknya sambil tersenyum.
"ayoo kita buat mereka menjadi pasangan yang bahagia!!" ujar ku dengan penuh semangat.
semua rencana sudah kami pikirkan semalaman. dan hari ini kita , aku dan kristov akan memulai rencana kita berdua. walau kami berdua harus ikhlas menerima semusemua,kami tidak bersedih. kami yakin dapat membuat mereka menjadi pasangan yang bahagia.Sehari, Dua hari sudah terlewatkan dan renacana kami menghasilkan hasil yang manis. antara satoshi dan tivani sudah terlihat kemesraan di antara mereka, dari mulai berdansa bersama,bernyanyi lagu ballad bersama,dan tentu saja memasak dan membersihkan rumah bersama. walau kegiatan yang mereka hal yang sepele, tapi itu benar-benar kemajuan yang pesat untuk mereka berdua. dan di hari terakhir sebelum kita kembali ke rumah masing-masing, kami mengelar farawell party. kami ber-BBQ bersama,menari,bernyanyi, dan tak lpa minum sake bersama walau hanya beberapa gelas saja. Kristov bangun dari tempat ia duduk dan mengambil alih perayaan farawell party, ia mengucapkan sepatah dua kata tentang betapa senangnya ia bisa menjadi relawan di sini, bertemu dengan ku kembali dan kenangan manis walau singkat. kristov kembali ke tempatnya sekarang giliran satoshi mengambil alih acara.
"aku benar-benar berterima kasih kepada kalian semua. atas waktu yang singkat ini, aku tak bisa melupakan kalian semua. terlalu banyak kenangan manis bersama di tempat yang tak berpenghuni ini. dan juga, aku bersyukur hanya beerapa hari saja aku bisa memperbaiki hubungan ku dengan tunangan ku,tivani. aku tahu kami berdua mungkin tak akan pernah memiliki perasaan yang bisa menyatu tapi setidaknya, kami berusaha untuk menyatukan perasaan kami tanpa menghilangkan orang yang kami cinta. berkat orang yang kami cinta, kami bisa memiliki pernikahan yang bahagia walaupun tak sepenuhnya seperti itu. Tivani, ayoo kita hidup dengan baik dan bahagia !!" pidato saoshi yang tak terdengar jelas dan tak tercena baik oleh otak ku sempat membuat ku hampir meneteskan air mata. tiba-tiba kristov bagkit dan mengambil alih lagi.
"YOSHIKUNI EMI jika kau berumur 29 dan belum menikah, aku akan datang ke rumah mu dan melamar mu!!!!!!" teriak kencang kristov membuat ku malu. muka ku tersipu malu sampai-sampai aku harus menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku. krstov kembali duduk tapi kali ini ia pindah posisi berada di samping ku tepat.
"baimana?" tanya kristov dengan sedikit sombong.
"kan ku tunggu kau untuk membuktikannya." ujar ku menepuk pundak kristov.
- THe END-