Sejak saat itu, aku berjanji pada diri ku sendiri tak akan merasakan yang namanya cinta. Karena itu, aku selalu murung dan menjahui satu demi satu teman ku. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Selalu menatap bintang-bintang berkilau itu, berharap bayangan Yon Ah il berada di sana. Dan lagi, butir-butiran air mata jatuh tiap malam. Setelah itu, aku pergi ke ranjang tempat ku beristirahat. “Guk-Guk-Guk.” Salakan dari anjing ku,Golden membangunkan aku. Aku bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi lalu mempersiapkan semua yg ku butuhkan di sekolah baru. Alasan ku sedih, bukan karena harus pindah rumah. Tapi, seorang yg selama ini aku sayang melebihi sayang ku pada Oma tertidur lelap. Kehangatan matanya, senyumnya yg ramah terkubur di galian tanah bersama tubuhnya yg tak bernyawa lagi. Kepergiannya sudah 5 bulan lalu, tapi aku masih merasa kepergiannya baru kemarin. Dan itu membuat ku terus bersedih tanpa rencana untuk bahagia. “Min Young, turun cepat! Sarapannya sudah siap.” Teriak Oma tepat di bawah tangga. Aku bergegas turuni anak tangga dengan wajah murung dan menuju ruang makan. Ku lahap 2 lapis roti berselai madu murni lalu menaruh beberapa roti kedalam bekal ku. “Aku berangkat” ucap ku meninggalkan rumah. Kata oma jarak rumah dengan sekolah tak jauh Cuma 2 menit saja. Ku melewati berbagai macam bentuk rumah yg sangat berbeda dengan rumah yg aku lewati setiap harinya di rumah yg lama. “Park Min Young!” suara teriakan berasal dari belakang membuat ku berpaling, sekedar menengok siapa yg memanggil nama ku. “Kau Park Min Young bukan?” sapa seorang seorang yang samar-samar di ingatan ku. Aku menjawab hanya mengangguk. “Aku Suzy! Teman mu sewaktu SD.” Jelas wanita berambut hitam sebahu itu. “Ya aku ingat kamu! Tak ku sangka kita bertemu lagi.” Ucap ku mencoba seperti teman lama. “Aku turut berduka atas meninggalnya Oppa mu. Kalau tak salah namanya Yon ah il bukan?” ucap Suzy. Dan aku terdiam membisu beberapa menit kemudian, aku tersenyum kecil padanya. “Tapi, kenapa nama keluarga mu berbeda dgn kakak mu?” Tanya Suzy. “Yaa karena sewaktu kita SD kelas 1, Oma dan Appa bercerai. Jadi, kita berpisah dan Oma menikah lagi. Jadi aku ikutan ganti nama keluarga! Tapi sayangnya, Appa baru ku tak lama hidup bersama Oma dan aku. Jadi mereka bercerai lagi. Dan Oma masih kasih aku nama dari nama Appa yang baru.” Jelas ku panjang lebar pada Suzy.
“Cukup rumit rupanya. Kasian kamu! 10 tahun belum bertemu Oppa mu. Eehh malah di tinggal pergi duluan sebelum bertemu. Sabar yya Min young. Omong-omong, kamu kelas apa?”
“Aku kelas 10-3. Kamu Suzy?”
“10-2! Kelas mu bersebelah dengan kelas ku. Ayoo kita berangkat bersama.” Ucap kegirangan Suzy.
Akhirnya aku dan Suzy menuju sekolah bersama.
Saat bel masuk, tanda pelajaran pertama akan di mulai. Aku memasuki kelas. Semua terlihat berbeda! Dari dinding, papan mading, sampai wajah setiap anak berbeda semua. Terasa asing oleh ku. Sementara semua anak sibuk berbincang-bincang dengan teman yang mereka kenal, aku memilih bangku dekat jendela dan mengeluarkan buku jam pertama. Dari Bel masuk sampai bel pulang sekolah, aku tak mendapatkan teman baru satu kelas. Semester I berlalu, berganti semester II dan berakhir lagi lalu berganti semester III alias sudah kelas 11. 1 tahun tanpa teman baru dan berbicara pada satu kelas, membuat ku nyaman-nyaman saja. Dan aku sedikit bangga! Mempertahankan peringkat 1 selama 2 semester itu berat juga. Hati ku sedikit lega dan tenang saat mengetahui kalau 3 tahun aku akan bersama teman kelas yang sama. Dan aku bisa meramalkan aku bisa peringkat 1 selama 3 tahun ini tanpa teman baru bagi ku. Saat baru masuk kelas, koizumi Sensai datang menghampiri ku.
“Kau pindah kelas, karena rata-rata mu melebihi anak kelas mu. Selamatt….” Ucap Koizumi sensai
“pindah kelas berapa lagi?” Tanya ku heran.
“Yyya pindah ke 11-U. kau tak tahu kelas U? kelas U hanya untuk anak yang acceleration dan rata-rata mu masuk 10 besar kelas acceleration. Selamatt…” terang Koizumi sensai.
Aku sedikit bingung dan tak percaya bisa masuk kelas paling top. Akhirnya aku merapikan buku ku dan diantar Koizumi sensai ke kelas U.
Aku melangkahkan kaki kanan ku terlebihi dahulu saat memasuki kelas U yang terkenal itu. Selama ini kalau aku hanya mendengar kelas U dari anak-anak kelas, sekarang aku menjadi salah satu dari kelas U. rasanya mimpi. Aku melihat wajah-wajah yang terlihat memiliki otak paling encer. Memang beda kelas U dengan kelas lainnya. Kalau kelas lainnya ngobrol hanya untuk bergossip, kelas U ngobrolnya benar-benar berbobot. Tiada anak yang berbicara tanpa membawa buku catatan atau buku kitab. “Keerrreennn…..” ucap ku dalam hati. Lalu seorang perempuan berambut pirang berombak mendatangi ku.
“Kau pasti Park Min Young bukan?” ucap perempuan itu. Aku menjawab hanya mengangguk.
“Hei kawan semua! Min-san sudah datang.” Teriak perempuan itu.
Seketika itu juga, teman-teman satu kelas berhenti beraktivitas dan memandangi ku. “Anneyongseok!!!” ucap bersamaan anak-anak satu kelas.
“Ohayoo.. aku Ha Jil Won. Biasa di panggil Jil-san. Mohon bantuannya.” Ucap perempuan itu pada ku.
Aku shock dan tak percaya kalau di kelas ini berbau jepang dan korea menjadi satu.
“Tak usah panic dan kaget gitu Min-san! Ciri khas kelas U memang berbau korea dan jepang yang melekat. Kau tahu? Yang memanggil Pak Koizumi menjadi Koizumi sensai pertama kali kelas U. dan Koizumi sensai senang katanya serasa di jepang! Jadi sejak saat itu, kami semua memanggil Koizumi sensai. Dan tak terasa satu sekolahan juga ikutan panggil Koizumi sensai.” Terang panjang lebar Jil-san.
Aku duduk paling ujung dekat jendela lagi dan perasaan berbeda muncul. Ada kehangatan dari kelas U ini. Dan aku menyukainya
.
“Min Young besok aku mau ajak kamu ke somewhere.” Ucap Suzy yang sudah ada di depan bangku ku.
“Lho? Sejak kapan kamu masuk kelas ku?” Tanya ku keheranan.
“Baru saja! Jil-san yg membolehkan. Sombong sudah masuk kelas U.” Sindir Suzy.
“Sudahlah.. bukan sebuah kebanggaan. Btw, kamu mau ajak aku ke mana?”
“ Ke Café yang lagi nge-tren sekarang. Namanya Café HEAVEN kalau tak salah. Mau yya?? Nanti aku kenalkan beberapa teman ku deh!” ajak Suzy pada ku.
“Okelah. Ketemuan di mana?”
“Di halte bus depan sekolah saja yya? Sekitar jam 8.”
“Yyyaa terserah deh.”
“Teeetttt….” Bunyi bel masuk berbunyi. Suzy bangkit dari bangku dan merapikan rok miliknya. “Aku balik dulu yyaa?” ucapnya dan aku mengangguk. Pelajaran ketiga adalah matematika. Aku menyiapkan buku matematika dan kembali melamun. “Min-san! Maju!” ucap Ms.Enha. Willy Nilly aku harus maju dan mengerjakan soal di papan. Setelah selesai aku kembali ke bangku dan membuka telinga lebar-lebar. Siap mendengarkan kesalahan kerjaan ku. “Waaa… kau hebat sekali! Ini soal untuk kelas 12 kau bisa mengerjakannya dengan benar! Ini materi baru dan anak-anak belum banyak yang mengerti. Kau baru masuk saja sudah mengerti! Hebat benar kamu.” Puji Ms.Enha pada ku. Aku sedikit tersipu dan senang.
Bel pulang sudah berdering. Saatnya pulang! Sewaktu di gerbang sekolah, Suzy berteriak. “Jagan lupa jam 8 di halte sekolah Min-san.” Ku berjalan pulang. Sampai depan rumah, seorang laki-laki seumuran atau lebih tua 1 tahun masuk ke rumah sebelah ku. “Rasanya seperti Oppa.” Gumam ku.
“Oma aku pulang!” teriak ku sambil membuka pagar.
“Selamat datang! Bagaimana sekolah mu tadi?” ucap Oma di dapur menyiapkan makan malam.
“Yya baik-baik saja! Tiada yang berbeda. Cuma aku di pindah menjadi kelas U.”
“Kelas U? waahhh harus di rayakan! Kau boleh pesan mi ramen kesukaan mu.” Ucap Oma bangga pada ku.
“Mi ramen? Assiikk Gamsahamidah Oma.” Ucap ku kegirangan. Tanpa basa-basi, aku mengangkat ganggang telephone dan menelphone layanan pesan antar.
Beberapa menit kemudian, Mi ramen datang. Aku memakannya bersama lauk yg sudah di masak Oma. Hari ini memang hari yang paling indah bagi ku.
Pagi hari telah datang. Sesuai janji, aku bertemu Suzy di halte bus sekolah. Saat sampai di sana, Suzy tanpa berkata-kata langsung mengajak ku ke café heaven yg dia ucapkan kemarin. Café yg di maksud Suzy cukup besar dan pemandangannya membuat sejuk di hati dan mata. Dalam kejahuan, seroang dari meja paling ujung melambaikan tangannya. “Itu mereka.” Ucap Suzy. Suzy menarik ku dan menuju ke meja palin ujung. “Kenapa kau memilih bangku paling ujung?” Tanya Suzy kepada teman-temannya yang ternyata keduanya laki-laki.
“Tak tahu Rain yang memilihnyya.” Ucap tak bersalah seorang dibangku pinggir menyalahkan teman sebelahnya yg duduk dekat jendela.
“Karena hanya meja ini pemandangannya lebih bagus dari yg lain.” Terang Pria yang bernama Rain.
“Apa-nya yg bagus!” gerutu Suzy.
“Sudahlah. Silahkan duduk.” Ucap pria satunya yang belum aku ketahui namanya. Akhirnya, aku dan suzy duduk. Aku duduk dekat jendela dan suzy paling pinggir.
“Mi-san ini yang di depan ku sepupu ku! Namanya Taecyon. Dan sebelah Taecyon namanya Rain.” Terang Suzy memperkenalkan satu persatu teman-temannya.
“Anneyong! Aku Park Min Young. Tapi di panggil Mi-san.” Ucap ku memperkenalkan diri.
“Kau kelas U sekolah CFLHS bukan?” Tanya Taecyon.
“CFLHS?” ucap ku tak mengeti apa yg di maksud Taecyon.
“CFLHS itu Changman Foregn Languange High School! Yya Mi-san ini benar kelas U yang terkenal itu lho.” Terang Suzy.
“Woww hebat!! Hei Rain bukannya tipe mu cewek pintar? Tuh di depan mu sudah ada tipe idaman mu!” jahil Taecyon.
“Terserah.” Balas Dingin Rain.
“Hey kenapa Rain BM?” Tanya Suzy.
“biasa.. masalah Fans! Fansnya buat ulah lagi.” Terang Taecyon
“biasa! Masalah orang TOP pasti kendala Fans.” Sindir Suzy
Aku tak mendengarkan apa yang Suzy dan taecyon bicarakan. Aku hanya melamun dan menyeduh cappuccino amerikano favorite ku.
“Kau memang mirip Rain! Dari minuman sampai hal yang kau lakukan mirip dengan rain! Jangan-jangan kalian jodoh.” Sindir kesal Suzy merasa Kacang.
“Lagi menimati suasana! Jangan di ganggu.” Ucap ku.
“Betul.” Terang Rain tanda persetujuan.
Setelah kami semua keluar di depan café, kami berpisah! Suzy bersama taecyon dan aku bersama Rain. Aku biasa saja selama perjalanan pulang bersama Rain. Kami berbincang segala macam dan udara sekitar aku dan rain sangat hangat. “Ini rumah ku.” Ucap kami berdua bersama-sama. Menunjukkan rumah masing-masing yang ternyata bersebelahan. “rupanya kamu yang kemarin pulang sekolah?” Tanya Rain
“Iyaa!! Tak ku sangka kita menjadi tetangga.” Ucap ku. Setelah saling melambaikan tangan, kami masuk ke rumah masing-masing.
Pagi hari datang lagi. Aku keluar dari gerbang rumah ku dan terlihat sosok Rain keluar dari gerbang rumah. “Ohh Min-san. Mau berangkat juga.” Sapa Rain dengan senyuman lebar miliknya.
“Yya apa kau juga mau berangkat?” balik tanya ku pada Rain.
“Kalau begitu kita berangkat bersama saja.” Ajak Rain “Sekolah ku tak jauh dari sekolah.” Tambah Rain
Aku berjalan sampai tempat berdiri Rain. Dan Rain tersenyum lagi. “Aku anggap jawaban mu ya.” Ucap Rain. Kami berjalan bersama dan membicarakan hal yang tak penting. Tapi hal yang tak penting itu, aku mengetahui apa yang Rain suka dan tidak. Dan berkat hal yang tak penting itu, aku dan Rain bisa sedekat ini. Serasa Oppa hidup kembali! Aku tak tahu mengapa setiap kalai melihat Rain tersenyum, jantung ku berdetak semakin cepat. Perasaan aneh juga muncul saat aku bertatap wajah dengan Rain.
“Jadi, kita sudah sampai sekolah mu.” Ucap Rain saat kami sampai di depan sekolah ku.
“kalau begitu, aku harus berangkat dulu.” Tambah Rain. Tampak dari kejahuan, Rain melambaikan tangan. Dan saat bayangan Rain sudah tak tampak lagi, aku masuk ke sekolah. Saat sampai di lorong menuju kelas ku, sudah terlihat sosok Suzy berdiri di depan pintu kelas ku. Ku menyapa Suzy dan Suzy langsung menanyakan kenapa aku bisa berangkat bareng Rain. Aku jawab saja, kebetulan Rain jadi tetangga ku.
Saat bel pulang berbunyi, dan kebetulan tiada tambahan pelajaran, aku langsung keluar gerbang tanpa menunggu Suzy dahulu. “Mi-san” ucap seorang dari belakang. Karena gerak reflex, aku menoleh ke belakang. Terlihat sosok Rain berlari menuju ku sambil melambaikan tangannya. “hari ini aku mau ajak kamu hunting.” Ucap Rain terengah-engah. Sebelum aku jawab, Rain sudah menarik tangan ku dan aku tertarik oleh tangannya. Kami berdua berlari melewati beberapa gang kecil, dan terowongan sambil bergandengan tangan. Setiap jalan yang kami lewati, banyak orang yang melihat kami berlari-lari dan berfikir kami berdua sweet couple mirip di drama korea. Setelah menempuh 5 menit dengan berlari, menepis satu-persatu orang-orang yang menonton adegan drama korea ku bersama Rain dan keringat juga burket yang muncul akhirnya kami sampai di sebuah tempat tua. Aku tak tahu mengapa Rain mengajak ku ke tempat seperti ini. Tiba-tiba Rain sudah memegang kamera di tangan kanan.
“Buat apa kamera itu?” tanya ku.
“Ya buat apalagi kalau kagak dibuat foto! Mi-san, coba kamu berdiri di depan tembok itu.” Ucap Rain mengarahkan aku.
“di tembok yang ada gambar graffiti itu?” tanya ku
“Iya. Emmm coba kamu juga bergaya yang natural. Maksud ku, aku ingin melihat expressi mu saat melihat graffiti yang bagus itu.” Ucap Rain.
Aku menuruti semua ucapan Rain. Aku menuju ke tembok yang di maksud Rain dan mulai menampilkan expressi ku. Aku tak tahu apa yang akan Rain lakukan. Tapi aku yakin, Rain akan melakukan hal yang membuat ku takjub. Setelah beberapa lama melakukan semua hal yang Rain katakan, Rain berhenti menyuruh-nyuruh aku lagi. “Mi! kemarilah.” Teriak Rain. Rain menunjukkan hasil foto bermodel aku. Aku kaget dan tak percaya kalau hasilnya akan menjadi bagus.
“Ayoo foto bersama.” Ajak Rain. Rain menarik badan ku dan membuat ku berdempet dengannya. Rain mulai menghitung dan terdengar bunyi ‘Klick’ tanda hasil foto bisa di lihat.
“Tunggu aku mau lihat.” Ucap ku pada Rain tergesa-gesa memasukkan kamera ke dalam tas.
“Sudahlah! Nanti kau tahu hasilnya seperti apa.” Balas Rain.
Akhirnya kami pulang bersama tapi kali ini berbeda. Kami pulang berjalan bukan berlari lagi. Sambil menikmati awan berubah warna orange, kami menceritakan hal apa saja yang kami lakukan di sekolah masing-masing. Dan lagi, aku merasa Oppa hidup kembali! Aku merasakan Oppa ada di tubuh Rain. Semua terjadi karena Oppa ingin selalu ada di samping ku.
Hunting bersama Rain terus berlangsung setiap hari. Dan terkadang membuat Suzy marah pada ku. Suzy selalu mengatakan aku telah melupakannya. Padahal aku tak pernah melupakan Suzy. Akhirnya Suzy membuat rencana yg beralasan sederhana! Ingin aku bersamanya meski hanya 3 hari. Kebetulan hari jumat,sabtu dan minggu sekolah ku libur. Jadi, Suzy membuat rencana aku menginap di rumahnya 3 hari dan selama 3 hari hanya bersama Suzy tidak bersama yang lain. Aku meminta izin Oma dan Oma setuju. Waktu aku menelphone Suzy malam hari tentang izin Oma, pagi-pagi sekali sudah terdengar suara mobil Nissan Juke. Cepat-cepat aku bergegas menuju keluar dan tak lupa pamit Oma dulu.
“Mi!! ayyoo cepat! Kita akan ke villa kakek ku.” Teriak gembira Suzy dari dalam mobil.
“Oma… aku berankat yya..” teriak ku.
Setelah itu, aku masuk kedalam mobil Suzy. “Gomawo sudah ajak aku ke villa.” Ucap terimakasih ku pada Suzy.
“Ananyang! Itu juga karena kau sudah baik pada ku. Jadi ini imbalannya.” Jawab Suzy
Aku meronggoh saku kanan celana ku dan mengeluarkan ponsel lama ku.
“Rain Oppaa, 3 hari ini aku akan pergi bersama Suzy! Jadi kita tak akan bertemu 3 hari ini.” Ketik ku pada keypad touch ponsel lama ku. Lalu ku kirim ke nomer ponsel Rain.
“sejak kapan kau panggil Rain Oppa?” tanya Suzy dengan tatapan yang masam.
“Eeee.. sudah 3 minggu.” Jawab ku gagap. Ku menelan ludah, bersiap-siap mendengar apa yang akan di ucapkan Suzy selanjutnya.
“Sudahlah Suzy! Pak min young selamat dari kejaran fans Rain.” Ucap Taecyon tiba-tiba. Rupanya dari tadi Taecyon sudah duduk di samping supir. Aku mengelus dada karena ucapan Tacyon secara tiba-tiba.
“iyaa sih.. meski begitu Mi-san harus tahu apa yang terjadi dengan Rain! Apa kau tak tahu, mereka sudah dekat.” Ucap Suzy mencoba memberitahu aku sesuatu yang akan terjadi.
“Ceritakan pada ku mesi itu berat. Aku akan mendengarkannya!” ucap ku tegas.
“Biaklah. Apaboleh buat.” Ucap Taecyon.
“Kau tahukan bagaimana kehidupan Rain di sekolah? Selalu popular! Di sekolah manapun pasti ada fans Rain. Semua cewek-cewek jatuh cinta padanya karena Rain adalah cowok multitalent. Dia pintar bidang academic dan non academic. Hoby photograph, sepak bola, dan base ball. Itulah keriteria cewek-cewek jaman sekarang. Tapi, Rain tidak menyukai cewek yang tertarik dengan kelebihannya itu. Rain hanya suka pada cewek yang menerima dirinya apa adanya. Sempat dia berpacaran sekali kalau tak salah dengan cewek yang mengaku-ngaku menyukai Rain apa adanya. Dan Rain menerima cewe itu. Ternyata jalan takdir Rain dengan cewek itu tak berjalan mulus. Rain mengetahui semua mengapa cewek itu menyukai dirinya dari fans Rain. Sejak saat itu, Rain percaya apa yang fansnya katakan tentang cewek yang akan di ajak Rain jalan. Begitulah ceritanya.” Cerita Taecyon pada ku.
“Intinya, kalau kau benar menyukai Rain apa adanya, kau harus kuat menghadapi fans Rain! Pasti suatu hari nanti Rain akan menerima diri mu meski agak lama. Tapi, jika kau menyukai Rain hanya karena dia Multitalent sudahlah kau menyerah saja! Karena suara Fans yang pertama yang di pilih Rain bukan suara diri mu.” Tambah Suzy memperjelas perkataan Taecyon.
“Tul-betul itu.” Tambah Taecyon.
“Aku tak pernah menyukainya. Aku hanya menganggap Rain adalah Oppa ku.” Terang ku.
“Terseralah. Itu hak mu.” Jawab Suzy.
Aku berhenti berbicara lagi. Aku hanya memfikirkan perasaan ku ini. Ada yang terasa janggal saat aku mengucapkan aku hanya menganggap Rain sebagai Oppa. Tapi tak mungkin aku menyukai Rain! Karena hati ku sudah ku bekukan sebeku es.
3 hari sudah ku lewati bersama Suzy. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Tapi, aku lebih banyak menyita waktu untuk memfikirkan perasaan aneh pada Rain. Entah mengapa aku ingin bertemu Rain. Setiap kali memegang ponsel, aku ingin menelphone dirinya! Ingin tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin menulis surat atau mengirim sms pada Rain. Tapi semua itu tak ada yang aku lakukan. Selama 3 hari, dadaku semakin sesak menahan rindu ingin bertemu Rain. Tapi siapa diri ku ini? ingin bertemu Rain seenaknya. Aku hanya tetangga sebelah Rain yang mempunyai hubungan tak sebegitu dekat dan tak begitu jauh. Akhirnya aku kembali ke rumah. Aku tak bertemu dengan Rain seharian saat aku sudah pulang. Rain tak menelphone atau datang ke rumah ku.
Keesokan harinya, aku bertemu Rain saat berangkat sekolah. Aku tersenyum padanya bermaksud menyapa dirinya. Tapi, Rain tak menjawab sapaan ku. What’s going on? Aku rasa sebelum aku pergi, hubungan kami baik-baik saja. Tapi mengapa hari ini seperti ini? Aku mencoba positive thingking. Berfikir kalau Rain sedikit canggung karena 3 hari tak bertemu jadi sedikit malu untuk berbicara. Kami habiskan perjalanan berangkat sekolah tanpa sepatah kata apapun. Dan saat sudah sampai sekolah ku, Rain tak melambaikan tangan kepada ku. Hanya menatap dengan tatapan yang dingin. Aku membalas senyuman tapi Rain malah pergi tak membalas senyuman ku. Selama pelajaran, aku berfikir apa yang sudah terjadi antara aku dan Rain. Aku mencoba flashback memory. Menata secara rinci dan teliti apa yang aku sudah lakukan sebelum 3 hari liburan bersama Suzy. Tapi, aku tak mendapatkan jawabannya. Bel pulang berbunyi. Aku pulang tanpa menunggu Suzy karena kepala ku pusing memfikirkan masalah ku dengan Rain. Saat aku tiba di depan rumah Rain, sudah terlihat sepatu olahraga Rain di luar. Berarti Rain sudah pulang dulu sebelum aku. Aku masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Aku berfikir lagi apa yang sedang terjadi dengan ku. Tetap saja tak ada jawaban yang meyakinkan.
Hari berganti hari, keadaan tidak berubah di antara aku dan Rain. Aku sering melamun berfikir sebuah masalah yang menimbulkan masa-masa diam ini. Setiap malam aku tidur lebih larut dari biasanya. Dan malam ini, aku tidur lebih-lebih larut dari biasanya. Aku mencoba keluar jendela kamar dan menuju loteng dengan hati-hati. Lalu duduk dan menatap bintang-bintang di langit. Saat aku melihat bintang, tatapan mata ku tertuju satu bintang yang terang dan lurus dengan posisi ku sekarang. Ku menatap semakin lekat dan berfikir tentang Rain, berfikir saat Rain tertawa dan senyum. Saat aku sharing dengan Rain dan tak lupa membicarakan hal yang tak penting yang membuat aku dan Rain sangat dekat. Tanpa sadar air mata ku keluar. Satu demi satu keluar dengan deras. Dan aku mengerti tentang perasaan ku sekarang! Dulu aku menganggap perasaan ini aneh karena aku selalu menganggap Rain seperti Oppa yang sudah mati, sekarang berbeda! Aku mengetahui perasaan aneh ini! Perasaan aneh ini menandakan aku menyukai Rain! Menyukai dirinya.
Ku sengaja berangkat sekolah dengan bis dan memperlambat jam berangkat ku. Hari ini, aku tidak turun di depan sekolah tapi di depan sekolah Rain. Aku memasuki sekolah Rain dan encari Rain. Akhirnya bertemu Rain di halaman sekolah. Aku menghampirinya dan Rain kaget saat mengetahui aku berada di sekolahnya. “Apa yang kau lakukan? Cepat kembali ke sekolah mu!” teriak Rain.
“Aku tidak akan pergi.” Tegas ku. “Aku mau bicara.”
Lalu Rain menarik tangan ku dan menyeret ku menuju gerbang sekolahnya.
“Apa kau mau bolos sekolah? Kembalilah ke sekolah mu!” ucap Rain dengan tegas
“Aku tak berniat untuk membolos sekolah! Tapi aku berniat untuk datang telat.” Teriak ku.
“Aku tak tahu mengapa kau menjadi seperti ini. Memusuhi ku tanpa sebab. Aku berdiri di sini mencari titik terang.” Tambah ku.
“Titik terang apa? Sudahlah mungkin kita tak akan bisa menjadi teman lagi. Sudahlah Mi kembalilah ke sekolah.” Ucap Rain.
“Aku sudah siap menerima hukuman guru BK karena terlambat. Aku sudah siap menerima hukuman dari Oma juga. Dan aku sudah siap dengan semua resiko saat aku memasuki sekolah mu.” Ucap ku. Tanpa ku sadari air mata ku menetes.
“Sebelum aku meninggalkan mu berlibur bersama Suzy, aku rasa hubungan kita baik-baik saja.”
“Iyaa memang baik-baik saja. Tapi sekarang tidak.” Selat Rain.
“DIAM! Aku belum selesai bicara!” bentak ku.
“Kau tak tahu seberapa sering aku ingin menghubungi mu saat berlibur dengan Suzy. Kau tak tahu seberapa sering aku merasa sesak menahan rindu ku pada mu. Kau tak tahu seberapa sering aku menghawatirkan diri mu. Dan betapa teganya kau membayar semua perasaan aneh ku selama liburan dengan tatapan sinis! Dengan pertengakaran tanpa ku ketahui sebabnya.” Jawab ku sambil menangis.
“Selama ini, aku selalu berfikir dan menganggap mu sebagai Yon Ah il, Oppa ku yang sudah tiada. Dan kemarin malam dan malam-malam sebelumnya aku berfikir semakin dalam tentang anggapan ku selama ini. Aku sadar! Anggapan ku selama ini SALAH! Aku mengira setelah Yon Ah il meninggal hati ku tak akan terbuka. Dan semua itu SALAH! Tanpa ku sadari, selama ini hati ku sudah terbuka karena mu! Hati ku terbuka saat aku menganggap perasaan aneh yang aku miliki karena kau aku anggap seperti Oppa ku.”
“Aku hanya ingin kau tahu, aku menyukai mu saat bersama ku! Bukan saat kau menjadi Rain cowok popular idaman cewek-cewek sekarang.!” ucap ku panjang lebar.
Aku membuka tas dan mengambil lembaran surat yang pernah ku tulis saat liburan bersama Suzy. Aku berjalan menuju Rain dan menyerahkan semua surat yang ku tulis.
“Inilah yang ingin ku katakan selama liburan dan sehari sebelum aku berlibur. Semua ini menceritakan semua perasaan aneh yang kau tanam.” Rain menerima surat ku dengan tangan sedikit gemetar. Aku mundur 3 langkah dan membungkukkan badan. Dan pergi ke sekolah dengan isak tangis yang tak terhentikan. Aku tak peduli dengan apa yang di lakukan Rain dengan surat ku itu. Mau dia buang atau bakar atau mau di baca aku tak peduli lagi. Semua perasaan ku sudah ku tuahkan semua di depannya. Rasa sakit dan lega bercampur aduk untuk hari ini.
Hari berganti hari, Bulan berganti Bulan, Musim dingin berubah musin Semi hubungan ku dengan Rain sudah tak ada. Terakhir kali kami berbicara saat aku menghampirinya di sekolahnya. Pulang dari sekolah Rain, aku mendapatkan hukuman dari BK dan untungnya Oma tak memberikan hukuman setalah aku menceritakan apa yang telah terjadi. Meski, sudah tak pernah berbicara dengan Rain lagi, tapi perasaan aneh ini masih aku simpan sebagai kenangan. Rencana ku saat Musim Semi ini lulus dari SMA dan pindah ke Andong melanjutkan ke university of Andong. Ke rumah Appa ku! Awalnya Oma tak setuju dengan keinginan ku pindah bersama Appa. Tapi aku tetap memaksa Oma dan Oma mengalah dengan ku. Musim Semi aku akan lulus bersamaan dengan Rain yang 1 tahun lebih tua dari ku. Aku tak tahu apa rencana Rain setelah lulus SMA karena kami sudah tak pernah bicara lagi. Seharusnya musim semi ini aku naik kelas 3. Tapi keinginan ku tinggal dengan Appa membuat ku mempercepat pembelajaran ku. Tanggal perpisahan tinggal 1 hari lagi! Aku ingin berpamitan ke para tetangga termasuk rumah Rain. Tapi aku tak sanggup jika harus bertemu dengan Rain lagi. Mungkin aku akan mampir ke rumah Rain saat Rain berangkat ke sekolah.
Hari kelulusan datang. Bau tetesan air mata tercium sudah.
“Kau harus janji akan mengirim surat atau kirim email atau FB atau Twitter atau SMS aja yya biar sedikit gaul.” Ucap Suzy saat memeluk ku setelah upacara kelulusan. Berat rasanya meninggalkan Oma dan Suzy! Tapi, semua aku harus tempuh untuk sesuatu yang lebih baik. Sepulang upacara kelulusan, aku berkunjung ke rumah tetangga. Saat ku berkunjug ke rumah Rain, aku sengaja agak siang menghindari pertemuan ku dengan dirinya. Lengkap sudah memberikan salam perpisahan pada tetangga ku. Tinggal ke esokan harinya berangkat naik kereta express menuju Andong.
Esokan harinya, Suzy dan Taecyon mengantarkan aku sampai stasiun. Dan Taeyon mengatakan sesuatu yang tak aku dengar saat pintu kereta sudah tertutup. Sampai di Andong, aku telah di sambut Appa yang sudah menunggu ku di stasiun. Sebelum pulang ke rumah Appa, aku mampir ke tempat makam Oppa. Aku mendoakan Oppa dan mengatakan aku akan tinggal beberapa waktu dengan Appa. Setelah itu, aku pulang. Sekarang ini, aku melihat rumah tetangga yang taka sing bagi ku begitu juga wajah orang-orang. Tak seperti awal aku datang ke Seul dan bertemu dengan Rain yang memberikan luka membekas di hati. Sebelum tidur, aku menelphone Oma.
“Oma! Aku sudah sampai.” Ucap ku
“Benarkah? Kalau begitu syukurlah. Mi, kenapa kau tak bilang kalau kau lulus bersamaan dengan Rain?”
“Aku kan sudah tak bicara dengan Rain! Jadi mana aku tahu kalau dia akan lulus bersamaan dengan ku.”
“kalau tak salah dia akan memberikan Oma informasi dirinya sekarang.”
“Maksud Oma?”
“Maksud Oma, Rain tadi berkunjung menyampaikan salam perpisahan terus Oma tanya apa rencana selanjutnya, Rain jawab dia akan pergi ke suatu tempat dan akan memberi tahu Oma besok.”
“Ooohh begitu. Sudah yya Oma! Aku sudah ngantuk. Yangsebo”
“Yangsebo!”
Dan berakhirlah percakapan ku dengan Oma melalui ponsel.
Keesokan harinya, aku berangkat menuju Universitas Andong yang tak seberapa jauh dari rumah ku. Aku menempuh dengan sepeda ongkel tua milik Oppa ku dulu. Perjalanan menuju univeristas,menghidupkan memory ku tentang Oppa dan Rain lagi. Sampai di gerbang Universitas, Oma mengirim sms dan aku membuka. “Sekarang ini Rain ada di universitas yang sama dengan mu. Dan Oma sudah mengatakan kalau kau juga ada di sana.” Ucap Oma dalam SMS. Aku bergegas memakirkan sepeda dan berlarian mengkelilingi Universitas mencari Rain. Tapi tak ketemu juga, akhirnya aku kembali ke depan gerbang.
“Park Min Young. Saranghae…..” teriak seorang dari belakang. Aku menoleh dan rupanya itu adalah Rain dengan keringat di seluruh tubuhnya. Aku langsung berlari menuju tempat Rain dan memeluknya erat.
“Oppa saranghae.” Bisik ku pada Rain.
“Maaf! Aku butuh waktu lama menyadari kau menyukai ku apa adanya! Dan aku menyukai mu apa adanya.” Bisik Rain pada ku.
“Wakata.. wakataru.. (aku mengerti)” ucap ku
Dan berakhirlah kisan u bersama Rain. Perasaan aneh ini, tak akan pernah hilang dan terus melekat bersama luka senang,duka bersama Rain.
THE END…
0 komentar:
Posting Komentar