Josephine march
Jantung ku berdetak sangat cepat pagi ini. aku mulai bernafas dengan cepat,perasan was-was menyelubungi diri ku. aku menatap jam tangan berwarna hitam di tangan kanan ku. tepat pukul 09.00! tak lama kemudian pria berwajah chinese berseragam SMA swasta kristen keluar dari kelas X-1 sambil membawa rapot bercover biru tua. aku langsung berdiri di sampingnya. tanpa berkata-kata dia mengusap-usap kepala ku dengan lembut. dengan leganya aku mengelus dada dan menghela nafas. rapot sudah aku pegang dan aku mengikuti pria itu berjalan tanpa berkata-kata sampai depan gerbang sekolah. sepanjang perjalanan menuju gerbang, semua mata tersorot pada kita berdua dan terdengar oleh ku bisikan dari mereka. aku sudah biasa mendengar mereka berbisik karena itulah kerja mereka sehari-hari dan biasanya aku tak menggubris sama sekali. tapi hari ini beda! aku sedikit takut jika pria ini mendengar bisikan mereka yang sama sekali tak ada kebenarannya. tapi,rasa takut ku ini terlalu berlebihan. tak bisa dipungkiri lagi kalau pria ini sudah mendengar bisikan mereka tentang ku.
aku meraih ipod ku dan mulai menyelipkan headset ke telinga yang beberapa waktu lalu panas karena bisikan orang yang gak ada kebenaranya sama sekali. sebelum aku mulai menyumpal telinga kiri ku, tiba-tiba pria itu memeluk ku.
"kenapa kamu gak pindah aja jo? pindah ke sekolah yang sama dengan ku di surabaya! sudah berapa lama kamu dengarin omongan mereka yang hoax semua?" ujar pria itu sambil memeluk ku erat. aku memelepaskan pelukannya sebelum ada yang sadar kalau kita berpelukan di dalam mobil. aku memegang pundak kirinya dan tersenyum tipis bercampur rasa pahit yang tergambar dari raut wajah ku.
"kitakan udah pernah bahas ini. kenapa harus di bahas lagi? intinya aku akan jalanin apa kakek mintak sampai aku kelas 11 nanti,ko." ujar ku mencoba membuat pria yang sekarang duduk di kursi driver sedikit lebih tenang.
sebenarnya,sejak awal pendaftaran ppdb SMA, aku ingin ikut bersekolah yang sama dengan koko ku. padahal, formulir pendafaran SMA Kristen petra Sudah berada di tangan ku terisi lengkap bersama sertifikat lomba science yang sejak smp sudah sering ku ikuti. tapi, apa daya diri ku! aku hanya seorang anak kecil berumur 16 tahun yang di kurung oleh kakeknya yang berada di england untuk menjalankan semua perintahnya sampai aku berumur 17 tahun. dan kebetulan perintahnya saat itu adalah aku mendaftar di sekolah negeri yang terletak di komplek perumahan gresik kota. salah satu sekolah terbaik di gresik, mungkin. tanpa menyertakan sertifikat lomba science yang selama ini sudah aku ikuti di beberapa tingkatan. sebenarnya aku tak tahu mengapa sekolah yang seperti ini di katakan sebagai salah satu sekolah negeri yang terbaik nomer-2 di gresik. kurang setahun lagi dan aku akan bebas! aku akan di perbolehkan untuk memilih menetap sampai lulus, atau pindah ke negara yang aku hendaki.
suara mesin mobil berhenti, koko keluar dari mobil duluan dan aku menyusulnya. di depan rumah, sudah terlihat tante ku yang sudah ku anggap seperti ibu kandung ku sendiri berjalan untuk membuang sampah. dengan cepat, aku berlari dan memeluknya dengan erat. "mamaaaaa!!" teriak ku kegirangan.
"aduh jo! mama kan lagi mau buang sampah! masak langsung di sergap sih?"
"hehehe ya maaf deh." ujar ku sambil tertawa kecil dan masuk ke dalam rumah. tiba-tiba pria china berumur 45 tahun menghampiri ku dengan tangan bersembunyI di balik badan.
"hayoo tebak! papa bawa apa?"
"apa? coklat almond? storwberry cake? casing hp baru?"
"salah-salah-salah-salah." ujar papa alias om ku yang sengaja menggoda ku.
"papa bawa 3 tiket warna kuning!" ucap pria china yang lainnya saat melewati tempatku dan papa berdiri menuju pendingin makanan.
"maikel!! kenapa selalu merusak moment papa?!" gusar papa sambil menatap anak lelakinya yang berumur 19 tahun dengan satu alis terangkat.
" dia bukan anak 10 tahun lagi pa! dia mau 17 tahun!" ujar ko maikel sambil membawa 2 bungkus snack keripik kentang rasa balado di kedua tanganya menuju ruang keluarga.
"gimana rapotnya?" tanya papa kembali.
"eeem lumayan bagus! dapat rangking kayaknya tapi gak tahu peringkat berapa, ko jemi gak bilang ke aku."
"oh ya? waahh bagus, bagus, bagus!" puji papa
"ini kado dari papa! karena jojo dapat nilai bagus dan jemi juga, papa kasih ticket nonton frozen gratis!" ucap papa dengan suara yang sengaja di keraskan.
"tapi? kok ada 3 ticket?" Tanya Ku keheranan.
"awalnya mau buat maikel ju, tapi dia sudah ngerusak rencana papa jadi, kamu boleh ajak steven aja deh!" ujar papa keras lalu pergi masuk ke dalam kamar.
"yah? kok gitu sih? gak adil pa!" teriak ko maikel kesal.
Steven! Steven Cahya purnomo. pria blesteran china-korea tinggal di depan rumah om dan tante sejak 7 tahun yang lalu. aku masih ingat betul bagaimana hari pertama kita bertemu di depan pagar rumah om ku.saat itu steven memakai baju seragam sailor-nya lengkap beserta topi sailor dan sepatunya. ekspresinya cemberut dan takut saat tatapan kita bertemu untuk pertama kalinya. aku menatapnya dengan tatapan aneh bercampur heran.bibir merah tipisnya,dan matanya yang jernih membuat ku berdiam diri untuk beberapa saat. aku memanggil namanya di depan pintu masuk rumahnya. tak lama kemudian, ia keluar. steven membukakan pintu dengan t-shirt tosca dan celana pendek selutut andalannya tak lupa juga rambutnya! potongan rambut seperti miliy cirus yang Kata dirinya bisa menarik hati setiap wanita dan cocok untuknya. tanpa basa-basi aku berucap apa yang ingin aku ucapkan, dan Steven mengiyakannya. lalu aku masuk ke dalam kamar Steven. bau! benar kamar steven selalu bau aroma dirinya,mint dan...
"bau apa ini?" Tanya Ku keheranan. kamar ini tetap bau mint tapi ada aroma Lain yang tercium di hidung ku.
"aah,lavender! kemarin habis metik lavender dari kebun belakang,sekarang Malah jadi dekorasi di ruang tengah."
"ha? sejak kapan ada lavender di kebun belakang?"
"sejak kapan ya? 3 bulan yang lalu mungkin."
aku menuju jendela di sebelah kanan tempat tidurnya,menatap ke luar dan rupanya benar, lavender! mamanya sekarang menyukai lavender bukan rose lagi. aku menatap sekeliling kamarnya, rupanya koleksi tempelan posternya bertambah semakin banyak. dari poster band rock MCR,eminem,blink,linking park sampai-sampai poster rancangan experimen sains yang akan ia buat juga di tempelkan. aku menatap sebuah mading yang tak berupa mading lagi,berisikan rumus-rumus fisika dan matematika yang lebih banyak daripada punya ko jemi. ku berputar lagi dan sekarang aku duduk di kursi meja belajarnya yang sangat rapi daripada meja belajar ku yang ada di rumah. tangan ku meraih album foto bercover putih dan kembang-kembang kecil menghiasi di pinggir album foto. perut ku geli! aku tak tahan menahan kegelian ini saat tangan ku mulai membuka lembar demi lembar dari album tersebut. semua berisikan foto kami berdua. terkadang ada foto liburan steven yang selalu ia habiskan bersama adik sepupunya,Hyume di korea. tak jarang pula aku jumpai foto ku bersama steven dan Kong, kawan lama kami yang dulu pernah tinggal di sekitar perumahan ini tetapi,sekarang ia sudah pindah ke thailand sekitar 3 tahun lalu.
tak terasa matahari sudah mulai menyiapkan ritual untuk tidur. 5.45 p.m. terlihat jelas dari jam weker bentuk bebek kuning milik stev. aku berdiri dan mulai pamit. baru saja berjalan 5 langkah dari pagar rumah stev,ponsel ku bergetar menyerukan sms masuk. aku membukanya sambil berjalan.
"for the BysGis,please confrime your location right now! thank you."
aku berlari dari pagar rumah dengan kencang,membuka pintu utama dengan keras,menaiki tangga dengan cepat berteriak memanggil kedua koko. dengan sigap, kedua koko membuka pintu kamarnya secara bersamaan yang letaknya sekarang berada di kanan dan kiri ku. tanpa pikir panjang lag,aku menarik tangan mereka berdua dan menyeretnya menuju kamar ku, aku membuka screen lock ponsel ku dan memberikannya kepada mereka berdua. bukan expresi mata senang atau tawa keras yang mereka buat,malah mata melotot dan bibir mengerut kecut. begitu juga dengan ku,sekali-kali aku menelan ludah.
The BysGis, perkumpulan yang anggotanya masih saudara sendiri.dan sekarang ini, sudah beranggotakan 14 orang,11 pria dan 3 wanita.
"jawab aja lah ko!" ujar ku mencoba memberi sedikit cahaya jalan keluar.
"tapi kita belum tahu siapa yang mengirim sms ini! bisa saja dibajak atau dari om gan. kita tak boleh gegabah." ujar ko maikel.
benar! kita tidak boleh gegabah, The BysGis sudah tidak aktif selama 2 tahun terkhir ini. dan terakhir kita bertemu di pulau dewata bali,liburan bersama selama 1 minggu penuh. mungkin karena kegiatan The BysGis ini aku mendapatkan cemoohan yang tak enak dari mulut teman-teman ku. 2 tahun lalu memang kegiatan kita yang terakhir tapi, tahun-tahun sebelumnya adalah tahun keaktifan kita dalam berkumpul bersama. cemoohan itu tumbuh saat aku pulang dari liburan bersama The BysGis yang ke-5, aku yang masih berumur 12 tahun duduk di bangku SD kelas 6 diantar oleh Om gan yang saat itu ia berumur 25 tahun. om gan sebenarnya masih sepupu jauh ku tetapi umur yang lebih tua terpaut 13 tahun dari ku membuat ku memanggilnya om. om gan mengantar ku dengan alasan untuk konfrimasi kepada wali kelas ku karena, saat itu aku tinggal bersama om gan dikarenakan orang tua ku yang cerai dan entah sampai sekarang tinggal dimana. seorang siswa, teman satu kelas ku, junet mendengar percakapan antara om gan dan bu nurlaila di kantor guru dan menyebarkan di kelas. awalnya aku tak peduli tetapi, lama-kelamaan gosip yang menyebar mulai tak karuan. dari orang tua cerai karena ayah ku selingkuh, aku melarikan diri dari rumah, aku dan om gan menjalin kasih... iuhh gak banget dah gossipnya. tapi mungkin alasan yang pertama itu sedikit benar. tapi, aku tak pernah peduli dengan apa orang kata. jadi aku hanya membiarkan gosip itu tanpa berfikir kalau gosip itu seperti spora tanaman yang cepat tumbuh dan menyebar ke lingkungan sekitar. dari teman satu kelas menjadi teman satu sekolah mengetahui gosip yang gak banget itu. dan dampaknya masih terasa sampai sekarang,malah luar biasa terasa.
6.35 p.m.
aku berteriak memanggil steven dari depan pagar,steven muncul dan lari bersamabersama ku ke tempat ko jemi memanaskan mobil.
"kenapa kartun sih?" ujar kesal ko jemi.
"udahlah nanti juga bakalan tertarik." sahut steven sambil memasang seat bealt.
aku hanya memasang wajah yang tak mau tahu.
"ting tung...." line ku berbunyi berki-kali. aku membuka dan rupanya dari grup The BysGis. sudah di hadiri sekitar 7 orang. semua berdebat siapa yang mengirim sms yang mempertanyakan lokasi kita berada. aku kira hanya aku saja rupanya saidara ku yang luar indonesia juga di sms. tak lama kemudian om gan chat kita semua mengatakan kalau yang kirim sms itu adalah dia dengan nomer baru di beli dari bali.
"berarti sekarang, om gan berada di bali bersama tua bangka!" ujar ko jemi saat aku menceritakan percakapan yang terjadi di line grup. aku berpindah dari grup menjadi private chat dengan om gan. aku mempertanyakan alasan om sms para The BysGis,dan rupanya om gan di suruh kakek tua kami semua. kakek tua yang sering di sebut saudara ku dengan tua bangka adalah kakek buyut kami yang sudah berumur 108 tahun, tetapi sejak ia berumur 86 tahun sudah mengucilkan diri dari sorotan lampu mata orang-orang dan sekarang tinggal di sebuah desa yang terpencil jauh dari jamahan manusia di england. dan istimewahnya lagi, kakek buyut kami adalah seorang bangsawan dan masih salah satu kerabat kerajaan england. kalau tak salah, kakek buyut kami adalah anak dari satu ayah dengan queen elizbeth II tapi berbeda ibu bisa dibilang anak dari simpanan atau lebih tepatnya anak selingkuhan,karena saat itu ibu kakek buyut juga sudah menikah dengan bangsawan barones sepupu jauh dari ayah queen elizabeth II. tapi,tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali kami,The BysGis, mr.paul seketaris pertama kakek yang sudah berpulang dan sekarang di gantikan oleh mr.kristove anaknya,dan tentu saja kakek bersama 2 orang yang berselingkuh.
"kenapa lagi tua bangka itu?" gerutu ko jemi lagi.
"entahlah,oh! katanya kita disuruh menemuinya tanggal 23 besok lusa!." ujar ku saat menatapi chat baru dari om gan.
" tapi bukankah ini hal yang bagus? ya maaf kalau ikut campur." sahut steven yang mencoba ikutan percakapan ku dengan ko jemi.
ko jemi mengisyaratkan untuk meneruskan ucapan steve.
" berarti kalian ada kesempatan untuk mempertanyakan alasan kakek kalian yang sudah menyembunyikan pasport kalian selama 2 tahun juga meminta pembebasan si jojo? dia sudah terjebak di dunia pendidikan indonesia selama 16 tahun dan bukannya kakek kalian memberikan janji kalau sudah berumur 11 tahun boleh memilih belajar di negara asal atau negara orang bukan? tapi kenapa jojo tidak di beri janji seperti itu? malah 15 tahun dulu baru jojo bisa di kasih janji yang sama dengan kalian. dan sekarang,umur jo udah 16 setahun lagi 17 tapi kakek kalian tidak memberikan kabar apapun." ucap panjang lebar stev,mencoba memberikan solusi pada kami.
kami? yakin? aku tak yakin kata kami bisa ku ungkapkan. sebenarnya, aku tak seberapa peduli jika aku di tahan untuk bersekolah sampai kerja di negara ini. hanya saja, aku tak terima dengan penyitaan pasport kami yang lebih tepanya 2 tahun 7 bulan lamanya. aku merasa sengsara harus tinggal tanpa bertemu the BysGis walau hanya beberapa hari saja. kecuali kedua koko ku. aku tak pernah merindukan mereka,karena aku akan selalu mampir minimal 4x seminggu ke rumah mereka dan maximalnya seminggu penuh bisa aku lakukan walau harus pulang-pergi surabaya-gresik yang penting aku bisa bertemu dengan koko ku.
aku melangkah dengan sedikit menyeret kedua kaki ku. kaki yang terseret ini membuat langkah ku sedikit pelan. sesekali ko jemi menarik lengan ku karena aku terlalu lama berjalan. akhirnya kami sudah ada di tempat biskop XXI dan film akanakan di putputar 10 menit lagi. aku menyempatkan membeli beberapa kudapan yang akan ku bagi bersama steven. mungkin aku terdengar seperti orang pelit atau terlalu terobsesi dengan steven. sedikit dikit steven dan sealu steven tak pernah orang lain.
"psst!!" bisik ko jemi yang sekarang duduk di sebelah kiri ku. aku mendekatkan kepala ku sedikit ke bibir ko jemi.
"kenapa kamu gak bagi ke aku snacknya?" ujarnya memprotes kelakuan ku sejak awal sebelum film di putar sampai pertengah film hanya berbagi kudapan dengan steven.
"koko kan diet glukosa! trus kalaukalau aku tawarin berondong jagung manis rasa strowbeery mau? enggak kan?"
"sstttt!!!" sahut steven yang masih mencoba meraih kudapan di tangan kanan ku.
akhirnya aku dan ko jemi diam. menatap layar yang tak ku ketahui ukurannya tepat di depan ku. aku tak bisa kosentrasi sama sekali dengan film yang ku tonton. otak ku tak mau berhenti membuka pintu-pintu yang engselnya sudah hampir karatan,pintu yang di dalamnya menyimpan berjuta kenangan manis dan pahit, asam dan pedas tentang kakek buyut. aku tak bisa bayangkan kalau aku berjumpa dengannya lagi. apa yang harus ku katakan jika berjumpa denganya? otak ku berputar-putar mencari jawaban di setiap sudut pintu kenangan ku bersama kakek. pencarian jawaban ini membuat ku hanyut dalam dunia pikiran ku sendiri. tiba-tiba saja ko jemi menepuk pundak kiri ku dan steven mengangkat lengan kanan ku. aku berasa di sebuah dilema percintaan yang hebat! di perebutkan 2 pria yang tak begitu jelek amat.
konyol!
"aah?!" teriak ku kaget. telunjuk ku mengarah pada seseorang yang berada di depan ku berdiri dengan outfit full denim, bibir ku membentuk huruf O kecil tapi terlihat jelas bentuknya.
"koko?" akhirnya ada seorang yang menyebutkan siapa yang berdiri di depan ku setelah 5 menit aku mencoba mengingat siapa dirinya tapi tak teringat oleh ku sama sekali.
"kenapa bisa di sini? bukannya papa gak memperbolehkan...." lanjut ko jemi sambil menatap mata ko maikel.sebelum ko jemi selesai berucap,muncul gadis tinggi sekitar 165 cm rambut panjang melebihi bahu 5 cm,memakai kontak lens alias softlens berwarna deep blue ocean dan berpakaian full warna yang extreme! merah darah di padu kuning dengan kuning menyala, WOW!
bibir ku membentuk huruf O lagi,tetapi sekarang lebih besar. ko jemi meraih tangan ku dan menarik ku pergi menjauh dari aura yang akan berubah tak menyenangkan.
"aku terima tawaran om gan!" ujar ko maikel denga tangan terlipat.
"dan katanya tiket pesawatnya akan di kirim lewat fax rumah beberapa menit lagi," tambah ko maikel sehingga membuat langkah kami terhenti. kedua koko ku membahas masalah tiket,perjalanan,dan kakek buyut bersama steven dan tak membiarkan ku untuk ikut campur. what? padahal aku masih adik mereka tapi malah di larang ikut ngobrol tapi steven? adik aja bukan satu DNA aja bukan malah di perbolehkan.
aku duduk di kursi tunggu di ruangan pembelian tiket. duduk bersama wanita berpenampilan nenek sihir ini. ya ampun! aku kira satu-satunya wanita yang jelek tak tahu fashion dan combinasi warna adalah aku tapi aku keliru. rambut yang terlihat bentukan salon dan make-up yang cukup tebal membuat ku begidik ngeri. dia sudah berkulit putih seperti para wanita chinese lainnya yang tinggal di surabaya dan sekitarnya. hanya saja penampilannya mirip penyanyi dangdut ecek-ecek dan membuat ku berasa ingin muntah adalah parfumnya! aroma manis yang terlalu tajam menusuk paru-paru ku dengan kuat. 'uhuk-uhuk-uhuk'.......
Akhirnya setelah perjalanan memakan waktu kurang lebih 12 jam yang membuat pantat ku terasa panas berakhir juga,. aku tak tahu sekarang berada di mana. yang penting aku bukan berada di rumah pangeran william walaupun aku tak yakin benar tidaknya. berdiri di depan mata ku bangunan tua yang memang seperti rumah tua bangsawan ternama. 'mungkin aku hanya berhalusinansi.' getir ku dalam hati. tiba-tiba seorang pria tinggi sangat tinggi memakai setelan suit hitam menghampiri ku dan membantu ku membawakan koper ku yang tak seberapa besar dan tas ransel polo classic ku. pria itu tersenyum pada ku dan menunjukan jalan pada ku. aku memasuki ruangan yang besar,aula rumah tepatnya. luas,penuh warna cerah,terdapat 2 cabang tangga yang melingkar dan bertemu di suatu titik yang sama, di tengah percabangan kedua tangga rangkaian bunga besar di dalam sebuah pot keramik cina yang besar menyita perhatian ku penuh. aku mendekat pada pot bunga itu. semakin dekat dan semakin dekat. aku menelan ludah ku karena belum pernah aku menatap pot bunga yang begitu indah.
"Josyy.........!!!!!!" teriak seorang pria berpakaian layaknya koki keluar dari sudut ruangan sebelah kanan ku lalu pria itu melompat dan memeluk ku dengan erat.
aku melongo! tak bersuara,melebarkan mata,bibir membentuk huruf O yang amat besar, tangan kaku,kaki diam tuk melangkah,dan pundak ku tiba-tiba saja mengeras.
"kau lupa pada ku! aku marcus!" ujar pria itu sambil menepuk dadanya berulang kali. 'marcus?' pikir ku. aku tak merasa memiliki kenalan seorang koki bernama marcus. seorang lagi pria suit hitam berumur paruh baya lewat tanpa bersuara pada ku. dan beberapa menit kemudian pria itu berhenti melangkah dan menatap ku yang masih kebingungan dengan pria koki bernama marcus itu. pria paruh baya itu berucap dalam bahasa spanyol yang tak aku mengerti dan pria koki itu pergi dari hadapan ku dan kemabali ke ruangan saat ia muncul. 'marcus?' pikir ku lagi. 'shit! marcus!' akhirnya aku teringat siapa itu marcus. aku meneriakan namanya, wajahnya berseri-seri lebih ceriah daripada pertama kali saat dia memeluk ku. "kau pasti Pim kan? dan yang tadi Mr.kristove!" ujar ku sambil menoleh ke arah pria suit hitam yang membawakan koper dan ransel polo ku. ia tersenyum lagi. ya ampun! semua sudah berubah! tidak seperti terakhir kali aku datang saat berumur 8 tahun. main bersama mengitari rumah bangsawan tua ini bersama mereka adalah hal yang tak akan ku lupakan. benar sekarang aku berada di rumah kakek.
rerumputan yang panjang bergoyang dalam alunan lagu hembusan angin membuat tangan ku membuka lebar dan mencoba merasakannya. aroma rumput bercampur tanah yang basah membuat ku menutup mata dan menghirupnya dalam-dalam. mata ku masih tertutup, hanya terasa matahari yang menyengat kulit wajah ku dengan hangat. aku mencoba membayangkan hal yang indah yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. terlalu lama aku menutup mata dan hanyut dalam dunia khayalan ku yang tak berujung membuat ku lupa waktu. aku membuka mata dan terdapat sosok yang yang terlalu cerah. aku mencoba menutupi mata ku dari silauan matahari. mencoba mencuri sedikit gambaran wajah orang yang berhadapan dengan ku. aku menap matanya. mata yang indah bak mata boneka porselin,hijau permata. yeah hijau permata! aku menutup mata lagi karena terlalu silau matahari yang bersinar di belakang dirinya berpijak. aku membuka mata ku lagi. sekarang aku dapat menatap dengan jelas sosok pria. pria lagi?! berapa banyak lagi pria yang harus ku temui untuk hari ini?semoga aku tak di peluknya.
"jo?" suara lirih pelan keluar dari bibirnya. aku menatap lekat-lekat. pria setinggi 172 cm bermata boneka porselin ini menatap ku lekat sangat lekat dan tajam. "laurence?" entah mengapa aku menyebut nama itu, hanay nama itu yang terlintas di otak ku. pria itu merespon dengan wajah kejut dan sedikit ketakutan. aku mendengar suara ko jemi memanggil nama ku dengan keras. god,thanks! aku bisa berpindah sekarang. aku berpaling darinya dan berlari dengan kencang menuju ko jemi berdiri. ko jemi berdeham menyebutkan nama yang sama dengan yang ku sebutkan beberapa menit lalu. otot wajahnya menegang,rahangnya menutup erat,mata melebar walau sudah melebar tetap saja terlihat sipit. kami masuk ke dalam rumah bersamaan dengan pria yang baru saja bertemu dengan ku beberapa menit yang lalu. ia menuju ruang kerja kakek yang berada di lantai 2. kami menuju dapur dan ku dapati marcus menggulung adonan yang masih basah. "akan ku bantu!" ujar ku sambil tersenyum padanya, marcus membalas tersenyum juga. saat aku menggulung,membentuk,dan memasukkan ke dalam oven, ko jemi dan marcus juga bersma ko maikel yang baru saja bergabung membicarakan pria yang bernama laurance. aku hanya diam dan melakukan improvisasi keahlihan ku sebagai wanita rumahan (mungkin). aku tak tertarik dengan pembicaraan 3 pria di depan ku sampai marcus berkata 'menikah minggu depan!' dengan expresi yang menggila abis. kedua koko ku membungkam mulut marcus saat itu juga dan melirik ku dengan tatapan kekhawatiran. aku mengangkat kedua tangan dan menggelengkan kepala,isyarat kalau aku tak tahu apa-apa.
Bukit ini!benar bukit ini yang selalu ku rindukan setiap saat disaat aku merasakan ingin menghilang seperti buih yang menghilang tanpa jejak. bukit ini tetap tak berubah! selalu sepi rumput ilalang yang panjang selalu ada dan hanya rumput di sekitar makam yang nisannya bertuliskan nama panjang ku selalu terlihat rapi dan enak untuk di duduki. 'cih! rasanya sama saja duduk menemani makam sendiri.' gumam ku seraya melirik makam batu di sebelah kiri ku. aku mendongak ke atas menatap patung angel di atas nisan makam bertuliskan nama ku. kau akan baik-baik saja nenek! gumam ku sambil mengusap-usap makam dengan tangan kiri ku. 'ssreekk...ssreeekk...' suara muncul dari rumput ilalang yang tinggi tepat di belakang ku. "nona, sebentar lagi makan malam tiba!" ujar suara yang aku ketahui siapa pemiliknya tanpa harus menatap wajahnya. aku menepuk-nepuk memberi isyarat untuknya duduk di sebelah kanan ku. dan akhirnya dia duduk di sebelah ku. tanpa meminta izin darinya,aku menyandarkan kepala ku di bahunya yang semakin kekar dan bidang.
"hai nek! kau tahu kan pim? dia sudah besar!" kata ku. "Lady Josephine!" ujar pim sedikit menundukan kepala sebagai rasa hormat.
"dan aku juga seorang lady!" gernyit ku protes.
"kau nona bukan seorang wanita berumur 30 tahun keatas." jawabnya sesingkat mungkin.
"apa pria tadi laurance yang itu?"
"anda benar nona!"
"kenapa dia terlihat sangat berbeda? dia sangat terlihat lebih..... lebih tampan."
"kenapa dia sangat berbeda pim? apa aku terlalu banyak mengutuknya? sehingga ia menjadi lebih tampan di mata ku?"
"i'm 17 yet and i feel like old lady who lived in 1940's ."
"dengan siapa dia akan menikah?"
"dengan clara pentixion,adik tiri marcus nona."
"yah! apa ada yang menyela pernikahan mereka? apa kakek ku?"
"tidak nona! tuan baron merestui mereka hanya george duke yang tak terima dan tentu saja sedikit umpatan marcus tapi ia menyetujinya.
"wow! aku tak tahu harus berbuat apa."
"apa begini rasanya tunangan di rebut oleh kawan akrab ku sendiri?"
aku terdiam. mulut ku tak membuka melontarka pernyataan dan pertanyaan yang hanya bikin rumit pikiran ku sekarang. aku memejamkan mata,merasakan sunset menyengat kulit ku sebelum beberapa menit lagi tenggelam.
"nona?"
"heemm...?"
"apa anda mau membantu pernikahan mereka?"
"apa yang membuat mu berfikir seperti itu?"
"hanya firasat!"
"ya aku akan membantu mereka. lagian,Clara pentixion 4 tahun lebih muda dari pada Laurance. dan aku terlalu mudah dan akan memerlukan waktu lebih lama untuk menikah dengan ku."
"pim?"
"iya nona?"
"setelah makan malam bantu aku menyiapkna pernikahan mereka."
"baik nona."
"dan satu lagi! kau tak perlu memanggil ku nona lagi! panggil nama asli ku seperti waktu kita kecil dulu dan tak perlu bahasa formal saat berbicara dengan ku!"
"oke josy!!" ujar patuh pim. walau kata-kata yang ia katakan bukan bahasa formal,tapi aksen dia berbicara berkesan formal di telinga ku.
Jantung ku berdetak sangat cepat pagi ini. aku mulai bernafas dengan cepat,perasan was-was menyelubungi diri ku. aku menatap jam tangan berwarna hitam di tangan kanan ku. tepat pukul 09.00! tak lama kemudian pria berwajah chinese berseragam SMA swasta kristen keluar dari kelas X-1 sambil membawa rapot bercover biru tua. aku langsung berdiri di sampingnya. tanpa berkata-kata dia mengusap-usap kepala ku dengan lembut. dengan leganya aku mengelus dada dan menghela nafas. rapot sudah aku pegang dan aku mengikuti pria itu berjalan tanpa berkata-kata sampai depan gerbang sekolah. sepanjang perjalanan menuju gerbang, semua mata tersorot pada kita berdua dan terdengar oleh ku bisikan dari mereka. aku sudah biasa mendengar mereka berbisik karena itulah kerja mereka sehari-hari dan biasanya aku tak menggubris sama sekali. tapi hari ini beda! aku sedikit takut jika pria ini mendengar bisikan mereka yang sama sekali tak ada kebenarannya. tapi,rasa takut ku ini terlalu berlebihan. tak bisa dipungkiri lagi kalau pria ini sudah mendengar bisikan mereka tentang ku.
aku meraih ipod ku dan mulai menyelipkan headset ke telinga yang beberapa waktu lalu panas karena bisikan orang yang gak ada kebenaranya sama sekali. sebelum aku mulai menyumpal telinga kiri ku, tiba-tiba pria itu memeluk ku.
"kenapa kamu gak pindah aja jo? pindah ke sekolah yang sama dengan ku di surabaya! sudah berapa lama kamu dengarin omongan mereka yang hoax semua?" ujar pria itu sambil memeluk ku erat. aku memelepaskan pelukannya sebelum ada yang sadar kalau kita berpelukan di dalam mobil. aku memegang pundak kirinya dan tersenyum tipis bercampur rasa pahit yang tergambar dari raut wajah ku.
"kitakan udah pernah bahas ini. kenapa harus di bahas lagi? intinya aku akan jalanin apa kakek mintak sampai aku kelas 11 nanti,ko." ujar ku mencoba membuat pria yang sekarang duduk di kursi driver sedikit lebih tenang.
sebenarnya,sejak awal pendaftaran ppdb SMA, aku ingin ikut bersekolah yang sama dengan koko ku. padahal, formulir pendafaran SMA Kristen petra Sudah berada di tangan ku terisi lengkap bersama sertifikat lomba science yang sejak smp sudah sering ku ikuti. tapi, apa daya diri ku! aku hanya seorang anak kecil berumur 16 tahun yang di kurung oleh kakeknya yang berada di england untuk menjalankan semua perintahnya sampai aku berumur 17 tahun. dan kebetulan perintahnya saat itu adalah aku mendaftar di sekolah negeri yang terletak di komplek perumahan gresik kota. salah satu sekolah terbaik di gresik, mungkin. tanpa menyertakan sertifikat lomba science yang selama ini sudah aku ikuti di beberapa tingkatan. sebenarnya aku tak tahu mengapa sekolah yang seperti ini di katakan sebagai salah satu sekolah negeri yang terbaik nomer-2 di gresik. kurang setahun lagi dan aku akan bebas! aku akan di perbolehkan untuk memilih menetap sampai lulus, atau pindah ke negara yang aku hendaki.
suara mesin mobil berhenti, koko keluar dari mobil duluan dan aku menyusulnya. di depan rumah, sudah terlihat tante ku yang sudah ku anggap seperti ibu kandung ku sendiri berjalan untuk membuang sampah. dengan cepat, aku berlari dan memeluknya dengan erat. "mamaaaaa!!" teriak ku kegirangan.
"aduh jo! mama kan lagi mau buang sampah! masak langsung di sergap sih?"
"hehehe ya maaf deh." ujar ku sambil tertawa kecil dan masuk ke dalam rumah. tiba-tiba pria china berumur 45 tahun menghampiri ku dengan tangan bersembunyI di balik badan.
"hayoo tebak! papa bawa apa?"
"apa? coklat almond? storwberry cake? casing hp baru?"
"salah-salah-salah-salah." ujar papa alias om ku yang sengaja menggoda ku.
"papa bawa 3 tiket warna kuning!" ucap pria china yang lainnya saat melewati tempatku dan papa berdiri menuju pendingin makanan.
"maikel!! kenapa selalu merusak moment papa?!" gusar papa sambil menatap anak lelakinya yang berumur 19 tahun dengan satu alis terangkat.
" dia bukan anak 10 tahun lagi pa! dia mau 17 tahun!" ujar ko maikel sambil membawa 2 bungkus snack keripik kentang rasa balado di kedua tanganya menuju ruang keluarga.
"gimana rapotnya?" tanya papa kembali.
"eeem lumayan bagus! dapat rangking kayaknya tapi gak tahu peringkat berapa, ko jemi gak bilang ke aku."
"oh ya? waahh bagus, bagus, bagus!" puji papa
"ini kado dari papa! karena jojo dapat nilai bagus dan jemi juga, papa kasih ticket nonton frozen gratis!" ucap papa dengan suara yang sengaja di keraskan.
"tapi? kok ada 3 ticket?" Tanya Ku keheranan.
"awalnya mau buat maikel ju, tapi dia sudah ngerusak rencana papa jadi, kamu boleh ajak steven aja deh!" ujar papa keras lalu pergi masuk ke dalam kamar.
"yah? kok gitu sih? gak adil pa!" teriak ko maikel kesal.
Steven! Steven Cahya purnomo. pria blesteran china-korea tinggal di depan rumah om dan tante sejak 7 tahun yang lalu. aku masih ingat betul bagaimana hari pertama kita bertemu di depan pagar rumah om ku.saat itu steven memakai baju seragam sailor-nya lengkap beserta topi sailor dan sepatunya. ekspresinya cemberut dan takut saat tatapan kita bertemu untuk pertama kalinya. aku menatapnya dengan tatapan aneh bercampur heran.bibir merah tipisnya,dan matanya yang jernih membuat ku berdiam diri untuk beberapa saat. aku memanggil namanya di depan pintu masuk rumahnya. tak lama kemudian, ia keluar. steven membukakan pintu dengan t-shirt tosca dan celana pendek selutut andalannya tak lupa juga rambutnya! potongan rambut seperti miliy cirus yang Kata dirinya bisa menarik hati setiap wanita dan cocok untuknya. tanpa basa-basi aku berucap apa yang ingin aku ucapkan, dan Steven mengiyakannya. lalu aku masuk ke dalam kamar Steven. bau! benar kamar steven selalu bau aroma dirinya,mint dan...
"bau apa ini?" Tanya Ku keheranan. kamar ini tetap bau mint tapi ada aroma Lain yang tercium di hidung ku.
"aah,lavender! kemarin habis metik lavender dari kebun belakang,sekarang Malah jadi dekorasi di ruang tengah."
"ha? sejak kapan ada lavender di kebun belakang?"
"sejak kapan ya? 3 bulan yang lalu mungkin."
aku menuju jendela di sebelah kanan tempat tidurnya,menatap ke luar dan rupanya benar, lavender! mamanya sekarang menyukai lavender bukan rose lagi. aku menatap sekeliling kamarnya, rupanya koleksi tempelan posternya bertambah semakin banyak. dari poster band rock MCR,eminem,blink,linking park sampai-sampai poster rancangan experimen sains yang akan ia buat juga di tempelkan. aku menatap sebuah mading yang tak berupa mading lagi,berisikan rumus-rumus fisika dan matematika yang lebih banyak daripada punya ko jemi. ku berputar lagi dan sekarang aku duduk di kursi meja belajarnya yang sangat rapi daripada meja belajar ku yang ada di rumah. tangan ku meraih album foto bercover putih dan kembang-kembang kecil menghiasi di pinggir album foto. perut ku geli! aku tak tahan menahan kegelian ini saat tangan ku mulai membuka lembar demi lembar dari album tersebut. semua berisikan foto kami berdua. terkadang ada foto liburan steven yang selalu ia habiskan bersama adik sepupunya,Hyume di korea. tak jarang pula aku jumpai foto ku bersama steven dan Kong, kawan lama kami yang dulu pernah tinggal di sekitar perumahan ini tetapi,sekarang ia sudah pindah ke thailand sekitar 3 tahun lalu.
tak terasa matahari sudah mulai menyiapkan ritual untuk tidur. 5.45 p.m. terlihat jelas dari jam weker bentuk bebek kuning milik stev. aku berdiri dan mulai pamit. baru saja berjalan 5 langkah dari pagar rumah stev,ponsel ku bergetar menyerukan sms masuk. aku membukanya sambil berjalan.
"for the BysGis,please confrime your location right now! thank you."
aku berlari dari pagar rumah dengan kencang,membuka pintu utama dengan keras,menaiki tangga dengan cepat berteriak memanggil kedua koko. dengan sigap, kedua koko membuka pintu kamarnya secara bersamaan yang letaknya sekarang berada di kanan dan kiri ku. tanpa pikir panjang lag,aku menarik tangan mereka berdua dan menyeretnya menuju kamar ku, aku membuka screen lock ponsel ku dan memberikannya kepada mereka berdua. bukan expresi mata senang atau tawa keras yang mereka buat,malah mata melotot dan bibir mengerut kecut. begitu juga dengan ku,sekali-kali aku menelan ludah.
The BysGis, perkumpulan yang anggotanya masih saudara sendiri.dan sekarang ini, sudah beranggotakan 14 orang,11 pria dan 3 wanita.
"jawab aja lah ko!" ujar ku mencoba memberi sedikit cahaya jalan keluar.
"tapi kita belum tahu siapa yang mengirim sms ini! bisa saja dibajak atau dari om gan. kita tak boleh gegabah." ujar ko maikel.
benar! kita tidak boleh gegabah, The BysGis sudah tidak aktif selama 2 tahun terkhir ini. dan terakhir kita bertemu di pulau dewata bali,liburan bersama selama 1 minggu penuh. mungkin karena kegiatan The BysGis ini aku mendapatkan cemoohan yang tak enak dari mulut teman-teman ku. 2 tahun lalu memang kegiatan kita yang terakhir tapi, tahun-tahun sebelumnya adalah tahun keaktifan kita dalam berkumpul bersama. cemoohan itu tumbuh saat aku pulang dari liburan bersama The BysGis yang ke-5, aku yang masih berumur 12 tahun duduk di bangku SD kelas 6 diantar oleh Om gan yang saat itu ia berumur 25 tahun. om gan sebenarnya masih sepupu jauh ku tetapi umur yang lebih tua terpaut 13 tahun dari ku membuat ku memanggilnya om. om gan mengantar ku dengan alasan untuk konfrimasi kepada wali kelas ku karena, saat itu aku tinggal bersama om gan dikarenakan orang tua ku yang cerai dan entah sampai sekarang tinggal dimana. seorang siswa, teman satu kelas ku, junet mendengar percakapan antara om gan dan bu nurlaila di kantor guru dan menyebarkan di kelas. awalnya aku tak peduli tetapi, lama-kelamaan gosip yang menyebar mulai tak karuan. dari orang tua cerai karena ayah ku selingkuh, aku melarikan diri dari rumah, aku dan om gan menjalin kasih... iuhh gak banget dah gossipnya. tapi mungkin alasan yang pertama itu sedikit benar. tapi, aku tak pernah peduli dengan apa orang kata. jadi aku hanya membiarkan gosip itu tanpa berfikir kalau gosip itu seperti spora tanaman yang cepat tumbuh dan menyebar ke lingkungan sekitar. dari teman satu kelas menjadi teman satu sekolah mengetahui gosip yang gak banget itu. dan dampaknya masih terasa sampai sekarang,malah luar biasa terasa.
6.35 p.m.
aku berteriak memanggil steven dari depan pagar,steven muncul dan lari bersamabersama ku ke tempat ko jemi memanaskan mobil.
"kenapa kartun sih?" ujar kesal ko jemi.
"udahlah nanti juga bakalan tertarik." sahut steven sambil memasang seat bealt.
aku hanya memasang wajah yang tak mau tahu.
"ting tung...." line ku berbunyi berki-kali. aku membuka dan rupanya dari grup The BysGis. sudah di hadiri sekitar 7 orang. semua berdebat siapa yang mengirim sms yang mempertanyakan lokasi kita berada. aku kira hanya aku saja rupanya saidara ku yang luar indonesia juga di sms. tak lama kemudian om gan chat kita semua mengatakan kalau yang kirim sms itu adalah dia dengan nomer baru di beli dari bali.
"berarti sekarang, om gan berada di bali bersama tua bangka!" ujar ko jemi saat aku menceritakan percakapan yang terjadi di line grup. aku berpindah dari grup menjadi private chat dengan om gan. aku mempertanyakan alasan om sms para The BysGis,dan rupanya om gan di suruh kakek tua kami semua. kakek tua yang sering di sebut saudara ku dengan tua bangka adalah kakek buyut kami yang sudah berumur 108 tahun, tetapi sejak ia berumur 86 tahun sudah mengucilkan diri dari sorotan lampu mata orang-orang dan sekarang tinggal di sebuah desa yang terpencil jauh dari jamahan manusia di england. dan istimewahnya lagi, kakek buyut kami adalah seorang bangsawan dan masih salah satu kerabat kerajaan england. kalau tak salah, kakek buyut kami adalah anak dari satu ayah dengan queen elizbeth II tapi berbeda ibu bisa dibilang anak dari simpanan atau lebih tepatnya anak selingkuhan,karena saat itu ibu kakek buyut juga sudah menikah dengan bangsawan barones sepupu jauh dari ayah queen elizabeth II. tapi,tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali kami,The BysGis, mr.paul seketaris pertama kakek yang sudah berpulang dan sekarang di gantikan oleh mr.kristove anaknya,dan tentu saja kakek bersama 2 orang yang berselingkuh.
"kenapa lagi tua bangka itu?" gerutu ko jemi lagi.
"entahlah,oh! katanya kita disuruh menemuinya tanggal 23 besok lusa!." ujar ku saat menatapi chat baru dari om gan.
" tapi bukankah ini hal yang bagus? ya maaf kalau ikut campur." sahut steven yang mencoba ikutan percakapan ku dengan ko jemi.
ko jemi mengisyaratkan untuk meneruskan ucapan steve.
" berarti kalian ada kesempatan untuk mempertanyakan alasan kakek kalian yang sudah menyembunyikan pasport kalian selama 2 tahun juga meminta pembebasan si jojo? dia sudah terjebak di dunia pendidikan indonesia selama 16 tahun dan bukannya kakek kalian memberikan janji kalau sudah berumur 11 tahun boleh memilih belajar di negara asal atau negara orang bukan? tapi kenapa jojo tidak di beri janji seperti itu? malah 15 tahun dulu baru jojo bisa di kasih janji yang sama dengan kalian. dan sekarang,umur jo udah 16 setahun lagi 17 tapi kakek kalian tidak memberikan kabar apapun." ucap panjang lebar stev,mencoba memberikan solusi pada kami.
kami? yakin? aku tak yakin kata kami bisa ku ungkapkan. sebenarnya, aku tak seberapa peduli jika aku di tahan untuk bersekolah sampai kerja di negara ini. hanya saja, aku tak terima dengan penyitaan pasport kami yang lebih tepanya 2 tahun 7 bulan lamanya. aku merasa sengsara harus tinggal tanpa bertemu the BysGis walau hanya beberapa hari saja. kecuali kedua koko ku. aku tak pernah merindukan mereka,karena aku akan selalu mampir minimal 4x seminggu ke rumah mereka dan maximalnya seminggu penuh bisa aku lakukan walau harus pulang-pergi surabaya-gresik yang penting aku bisa bertemu dengan koko ku.
aku melangkah dengan sedikit menyeret kedua kaki ku. kaki yang terseret ini membuat langkah ku sedikit pelan. sesekali ko jemi menarik lengan ku karena aku terlalu lama berjalan. akhirnya kami sudah ada di tempat biskop XXI dan film akanakan di putputar 10 menit lagi. aku menyempatkan membeli beberapa kudapan yang akan ku bagi bersama steven. mungkin aku terdengar seperti orang pelit atau terlalu terobsesi dengan steven. sedikit dikit steven dan sealu steven tak pernah orang lain.
"psst!!" bisik ko jemi yang sekarang duduk di sebelah kiri ku. aku mendekatkan kepala ku sedikit ke bibir ko jemi.
"kenapa kamu gak bagi ke aku snacknya?" ujarnya memprotes kelakuan ku sejak awal sebelum film di putar sampai pertengah film hanya berbagi kudapan dengan steven.
"koko kan diet glukosa! trus kalaukalau aku tawarin berondong jagung manis rasa strowbeery mau? enggak kan?"
"sstttt!!!" sahut steven yang masih mencoba meraih kudapan di tangan kanan ku.
akhirnya aku dan ko jemi diam. menatap layar yang tak ku ketahui ukurannya tepat di depan ku. aku tak bisa kosentrasi sama sekali dengan film yang ku tonton. otak ku tak mau berhenti membuka pintu-pintu yang engselnya sudah hampir karatan,pintu yang di dalamnya menyimpan berjuta kenangan manis dan pahit, asam dan pedas tentang kakek buyut. aku tak bisa bayangkan kalau aku berjumpa dengannya lagi. apa yang harus ku katakan jika berjumpa denganya? otak ku berputar-putar mencari jawaban di setiap sudut pintu kenangan ku bersama kakek. pencarian jawaban ini membuat ku hanyut dalam dunia pikiran ku sendiri. tiba-tiba saja ko jemi menepuk pundak kiri ku dan steven mengangkat lengan kanan ku. aku berasa di sebuah dilema percintaan yang hebat! di perebutkan 2 pria yang tak begitu jelek amat.
konyol!
"aah?!" teriak ku kaget. telunjuk ku mengarah pada seseorang yang berada di depan ku berdiri dengan outfit full denim, bibir ku membentuk huruf O kecil tapi terlihat jelas bentuknya.
"koko?" akhirnya ada seorang yang menyebutkan siapa yang berdiri di depan ku setelah 5 menit aku mencoba mengingat siapa dirinya tapi tak teringat oleh ku sama sekali.
"kenapa bisa di sini? bukannya papa gak memperbolehkan...." lanjut ko jemi sambil menatap mata ko maikel.sebelum ko jemi selesai berucap,muncul gadis tinggi sekitar 165 cm rambut panjang melebihi bahu 5 cm,memakai kontak lens alias softlens berwarna deep blue ocean dan berpakaian full warna yang extreme! merah darah di padu kuning dengan kuning menyala, WOW!
bibir ku membentuk huruf O lagi,tetapi sekarang lebih besar. ko jemi meraih tangan ku dan menarik ku pergi menjauh dari aura yang akan berubah tak menyenangkan.
"aku terima tawaran om gan!" ujar ko maikel denga tangan terlipat.
"dan katanya tiket pesawatnya akan di kirim lewat fax rumah beberapa menit lagi," tambah ko maikel sehingga membuat langkah kami terhenti. kedua koko ku membahas masalah tiket,perjalanan,dan kakek buyut bersama steven dan tak membiarkan ku untuk ikut campur. what? padahal aku masih adik mereka tapi malah di larang ikut ngobrol tapi steven? adik aja bukan satu DNA aja bukan malah di perbolehkan.
aku duduk di kursi tunggu di ruangan pembelian tiket. duduk bersama wanita berpenampilan nenek sihir ini. ya ampun! aku kira satu-satunya wanita yang jelek tak tahu fashion dan combinasi warna adalah aku tapi aku keliru. rambut yang terlihat bentukan salon dan make-up yang cukup tebal membuat ku begidik ngeri. dia sudah berkulit putih seperti para wanita chinese lainnya yang tinggal di surabaya dan sekitarnya. hanya saja penampilannya mirip penyanyi dangdut ecek-ecek dan membuat ku berasa ingin muntah adalah parfumnya! aroma manis yang terlalu tajam menusuk paru-paru ku dengan kuat. 'uhuk-uhuk-uhuk'.......
Akhirnya setelah perjalanan memakan waktu kurang lebih 12 jam yang membuat pantat ku terasa panas berakhir juga,. aku tak tahu sekarang berada di mana. yang penting aku bukan berada di rumah pangeran william walaupun aku tak yakin benar tidaknya. berdiri di depan mata ku bangunan tua yang memang seperti rumah tua bangsawan ternama. 'mungkin aku hanya berhalusinansi.' getir ku dalam hati. tiba-tiba seorang pria tinggi sangat tinggi memakai setelan suit hitam menghampiri ku dan membantu ku membawakan koper ku yang tak seberapa besar dan tas ransel polo classic ku. pria itu tersenyum pada ku dan menunjukan jalan pada ku. aku memasuki ruangan yang besar,aula rumah tepatnya. luas,penuh warna cerah,terdapat 2 cabang tangga yang melingkar dan bertemu di suatu titik yang sama, di tengah percabangan kedua tangga rangkaian bunga besar di dalam sebuah pot keramik cina yang besar menyita perhatian ku penuh. aku mendekat pada pot bunga itu. semakin dekat dan semakin dekat. aku menelan ludah ku karena belum pernah aku menatap pot bunga yang begitu indah.
"Josyy.........!!!!!!" teriak seorang pria berpakaian layaknya koki keluar dari sudut ruangan sebelah kanan ku lalu pria itu melompat dan memeluk ku dengan erat.
aku melongo! tak bersuara,melebarkan mata,bibir membentuk huruf O yang amat besar, tangan kaku,kaki diam tuk melangkah,dan pundak ku tiba-tiba saja mengeras.
"kau lupa pada ku! aku marcus!" ujar pria itu sambil menepuk dadanya berulang kali. 'marcus?' pikir ku. aku tak merasa memiliki kenalan seorang koki bernama marcus. seorang lagi pria suit hitam berumur paruh baya lewat tanpa bersuara pada ku. dan beberapa menit kemudian pria itu berhenti melangkah dan menatap ku yang masih kebingungan dengan pria koki bernama marcus itu. pria paruh baya itu berucap dalam bahasa spanyol yang tak aku mengerti dan pria koki itu pergi dari hadapan ku dan kemabali ke ruangan saat ia muncul. 'marcus?' pikir ku lagi. 'shit! marcus!' akhirnya aku teringat siapa itu marcus. aku meneriakan namanya, wajahnya berseri-seri lebih ceriah daripada pertama kali saat dia memeluk ku. "kau pasti Pim kan? dan yang tadi Mr.kristove!" ujar ku sambil menoleh ke arah pria suit hitam yang membawakan koper dan ransel polo ku. ia tersenyum lagi. ya ampun! semua sudah berubah! tidak seperti terakhir kali aku datang saat berumur 8 tahun. main bersama mengitari rumah bangsawan tua ini bersama mereka adalah hal yang tak akan ku lupakan. benar sekarang aku berada di rumah kakek.
rerumputan yang panjang bergoyang dalam alunan lagu hembusan angin membuat tangan ku membuka lebar dan mencoba merasakannya. aroma rumput bercampur tanah yang basah membuat ku menutup mata dan menghirupnya dalam-dalam. mata ku masih tertutup, hanya terasa matahari yang menyengat kulit wajah ku dengan hangat. aku mencoba membayangkan hal yang indah yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. terlalu lama aku menutup mata dan hanyut dalam dunia khayalan ku yang tak berujung membuat ku lupa waktu. aku membuka mata dan terdapat sosok yang yang terlalu cerah. aku mencoba menutupi mata ku dari silauan matahari. mencoba mencuri sedikit gambaran wajah orang yang berhadapan dengan ku. aku menap matanya. mata yang indah bak mata boneka porselin,hijau permata. yeah hijau permata! aku menutup mata lagi karena terlalu silau matahari yang bersinar di belakang dirinya berpijak. aku membuka mata ku lagi. sekarang aku dapat menatap dengan jelas sosok pria. pria lagi?! berapa banyak lagi pria yang harus ku temui untuk hari ini?semoga aku tak di peluknya.
"jo?" suara lirih pelan keluar dari bibirnya. aku menatap lekat-lekat. pria setinggi 172 cm bermata boneka porselin ini menatap ku lekat sangat lekat dan tajam. "laurence?" entah mengapa aku menyebut nama itu, hanay nama itu yang terlintas di otak ku. pria itu merespon dengan wajah kejut dan sedikit ketakutan. aku mendengar suara ko jemi memanggil nama ku dengan keras. god,thanks! aku bisa berpindah sekarang. aku berpaling darinya dan berlari dengan kencang menuju ko jemi berdiri. ko jemi berdeham menyebutkan nama yang sama dengan yang ku sebutkan beberapa menit lalu. otot wajahnya menegang,rahangnya menutup erat,mata melebar walau sudah melebar tetap saja terlihat sipit. kami masuk ke dalam rumah bersamaan dengan pria yang baru saja bertemu dengan ku beberapa menit yang lalu. ia menuju ruang kerja kakek yang berada di lantai 2. kami menuju dapur dan ku dapati marcus menggulung adonan yang masih basah. "akan ku bantu!" ujar ku sambil tersenyum padanya, marcus membalas tersenyum juga. saat aku menggulung,membentuk,dan memasukkan ke dalam oven, ko jemi dan marcus juga bersma ko maikel yang baru saja bergabung membicarakan pria yang bernama laurance. aku hanya diam dan melakukan improvisasi keahlihan ku sebagai wanita rumahan (mungkin). aku tak tertarik dengan pembicaraan 3 pria di depan ku sampai marcus berkata 'menikah minggu depan!' dengan expresi yang menggila abis. kedua koko ku membungkam mulut marcus saat itu juga dan melirik ku dengan tatapan kekhawatiran. aku mengangkat kedua tangan dan menggelengkan kepala,isyarat kalau aku tak tahu apa-apa.
Bukit ini!benar bukit ini yang selalu ku rindukan setiap saat disaat aku merasakan ingin menghilang seperti buih yang menghilang tanpa jejak. bukit ini tetap tak berubah! selalu sepi rumput ilalang yang panjang selalu ada dan hanya rumput di sekitar makam yang nisannya bertuliskan nama panjang ku selalu terlihat rapi dan enak untuk di duduki. 'cih! rasanya sama saja duduk menemani makam sendiri.' gumam ku seraya melirik makam batu di sebelah kiri ku. aku mendongak ke atas menatap patung angel di atas nisan makam bertuliskan nama ku. kau akan baik-baik saja nenek! gumam ku sambil mengusap-usap makam dengan tangan kiri ku. 'ssreekk...ssreeekk...' suara muncul dari rumput ilalang yang tinggi tepat di belakang ku. "nona, sebentar lagi makan malam tiba!" ujar suara yang aku ketahui siapa pemiliknya tanpa harus menatap wajahnya. aku menepuk-nepuk memberi isyarat untuknya duduk di sebelah kanan ku. dan akhirnya dia duduk di sebelah ku. tanpa meminta izin darinya,aku menyandarkan kepala ku di bahunya yang semakin kekar dan bidang.
"hai nek! kau tahu kan pim? dia sudah besar!" kata ku. "Lady Josephine!" ujar pim sedikit menundukan kepala sebagai rasa hormat.
"dan aku juga seorang lady!" gernyit ku protes.
"kau nona bukan seorang wanita berumur 30 tahun keatas." jawabnya sesingkat mungkin.
"apa pria tadi laurance yang itu?"
"anda benar nona!"
"kenapa dia terlihat sangat berbeda? dia sangat terlihat lebih..... lebih tampan."
"kenapa dia sangat berbeda pim? apa aku terlalu banyak mengutuknya? sehingga ia menjadi lebih tampan di mata ku?"
"i'm 17 yet and i feel like old lady who lived in 1940's ."
"dengan siapa dia akan menikah?"
"dengan clara pentixion,adik tiri marcus nona."
"yah! apa ada yang menyela pernikahan mereka? apa kakek ku?"
"tidak nona! tuan baron merestui mereka hanya george duke yang tak terima dan tentu saja sedikit umpatan marcus tapi ia menyetujinya.
"wow! aku tak tahu harus berbuat apa."
"apa begini rasanya tunangan di rebut oleh kawan akrab ku sendiri?"
aku terdiam. mulut ku tak membuka melontarka pernyataan dan pertanyaan yang hanya bikin rumit pikiran ku sekarang. aku memejamkan mata,merasakan sunset menyengat kulit ku sebelum beberapa menit lagi tenggelam.
"nona?"
"heemm...?"
"apa anda mau membantu pernikahan mereka?"
"apa yang membuat mu berfikir seperti itu?"
"hanya firasat!"
"ya aku akan membantu mereka. lagian,Clara pentixion 4 tahun lebih muda dari pada Laurance. dan aku terlalu mudah dan akan memerlukan waktu lebih lama untuk menikah dengan ku."
"pim?"
"iya nona?"
"setelah makan malam bantu aku menyiapkna pernikahan mereka."
"baik nona."
"dan satu lagi! kau tak perlu memanggil ku nona lagi! panggil nama asli ku seperti waktu kita kecil dulu dan tak perlu bahasa formal saat berbicara dengan ku!"
"oke josy!!" ujar patuh pim. walau kata-kata yang ia katakan bukan bahasa formal,tapi aksen dia berbicara berkesan formal di telinga ku.
0 komentar:
Posting Komentar